Apakah hukum membaca al-Fatihah bagi Ma’mum?

Mazhab Hanafi:

Ma’mun tidak perlu membaca al-Fatihah, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

Pertama, ayat al-Qur’an:

“Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (Qs. al-A’raf *7+: 204). Imam Ahmad
bekrata: “Umat telah sepakat bahwa ayat ini tentang shalat”. Perintah agar mendengarkan bacaan al-
Fatihah yang dibacakan, khususnya pada shalat Jahr. Diam mencakup shalat Sirr dan Jahr, maka orang
yang shalat wajib mendengarkan bacaan imam yang dibaca jahr dan diam pada bacaan Sirr. Haditshadits
mewajibkan bacaan, maka makna ayat ini mengandung makna wajib, menentang yang wajib
berarti haram.

Kedua, dalil Sunnah. Dalam hadits disebutkan:

من صلى خلف إما، ف ف ق اءة الإما لو ق اءة

“Siapa yang shalat di belakang imam, maka bacaan imam sudah menjadi bacaan baginya”. (HR. Abu
Hanifah dari Jabir). Ini mencakup shalat Sirr dan Jahr.
Hadits lain:

إ ا جعل الإما لي تم بو، ف ذا بر فكبروا، وإذا ق أ ف صتوا

“Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti, apabila imam bertakbir maka bertakbirlah kamu.
Apabila imam membaca maka diamlah kamu”. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah).
Hadits lain:

Rasulullah Saw melaksanakan shalat Zhuhur, ada seorang laki-laki di belakang membaca ayat:
“Sabbihisma rabbika al-a’la”. Ketika selesai shalat, Rasulullah Saw bertanya: “Siapakah diantara kamu
yang membaca ayat?”. Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Rasulullah Saw berkata: “Menurutku salah
seorang kamu telah melawanku dalam membaca ayat”. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari ‘Imran bin
Hushain). Ini menunjukkan pengingkaran terhadap bacaan ma’mum dalam shalat Sirr, maka dalam
shalat Jahr lebih diingkari lagi.

Ketiga, dalil dari Qiyas.

Jika membaca al-Fatihah itu wajib bagi ma’mum, mengapa digugurkan
kewajibannya bagi orang yang masbuq seperti rukun-rukun yang lain. Maka bacaan ma’mum diqiyaskan
kepada bacaan masbuq dalam hal gugur kewajibannya, dengan demikian maka bacaan al-Fatihah tidak
disyariatkan bagi ma’mum.

Jumhur Ulama:

Rukun bacaan dalam shalat adalah bacaan al-Fatihah. Berdasarkan sabda Rasulullah Saw:

لا صلاة تظن لد أ بفاتحة الكتاب

“Tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah”.
Hadits lain:

لا تجلئ صلاة لا أ في ا بفاتحة الكتاب

“Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Fatihah al-Kitab (al-Fatihah)”. (HR. Ibnu Khuzaimah dan
Ibnu Hibban).
Juga berdasarkan perbuatan Rasulullah Saw sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim dan
hadits yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari:

صلوا ما رأ تموني أصلي

“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”.
Adapun membaca surat setelah al-Fatihah pada rakaat pertama dan rakaat kedua dalam semua
shalat adalah sunnat. Ma’mum membaca al-Fatihah dan surat pada shalat Sirr saja, tidak membaca apa
pun pada shalat Jahr, demikian menurut Mazhab Maliki dan Mazhab Hanbali. Membaca al-Fatihah
dalam shalat Jahr saja menurut Mazhab Syafi’i.

Dapat difahami dari pendapat Imam Ahmad bahwa beliau menganggap baik membaca sebagian al-
Fatihah ketika imam diam pada diam yang pertama, kemudian melanjutkan bacaan al-Fatihah pada
diam yang kedua. Antara kedua diam tersebut ma’mum mendengar bacaan imam.
Mazhab Syafi’i: Imam, Ma’mum dan orang yang shalat sendirian wajib membaca al-Fatihah dalam setiap
rakaat, apakah dari hafalannya, atau melihat mushaf atau dibacakan untuknya atau dengan cara lainnya.
Apakah pada shalat Sirr ataupun shalat Jahr, shalat Fardhu ataupun shalat Sunnat, berdasarkan dalildalil
diatas dan hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit,

إِ دِّ نِّ أَرَا مْ « عَنْ عُبَادَةَ بْنِ ال لَّا صامِتِ قَاؿَ صَللَّاى رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- الصُّبْحَ فَػثَػ لَتْ عَلَيْوِ الْ اءَةُ فَػلَ لَّا ما ا صَ ؼَ قَاؿَ
.» فَلاَ تَػفْعَلُوا إِلالَّا بِ دِّ الْ آفِ فَ لَّاوُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لدَْ ػ أْ ا « قَاؿَ قُػلْنَا ا رَسُوؿَ الللَّاوِ إِى وَالللَّاوِ . قَاؿَ .» تَػ ءُوفَ وَرَاءَ إِمَامِكُمْ

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata: “Rasulullah Saw melaksanakan shalat Shubuh, Rasulullah Saw
merasa berat melafazkan ayat. Ketika selesai shalat, Rasulullah Saw berkata: “Aku melihat kamu
membaca di belakang imam kamu”. Kami menjawab: “Ya wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw berkata:
“Janganlah kamu melakukan itu, kecuali membaca al-Fatihah, karena sesungguhnya tidak sah shalat
orang yang tidak membaca al-Fatihah”. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Ini nash (teks) yang jelas mengkhususkan bacaan bagi ma’mum, menunjukkan bahwa bacaan tersebut
wajib. Makna nafyi (meniadakan) menunjukkan makna tidak sah, seperti menafikan zat pada sesuatu.
Menurut Qaul Jadid: jika seseorang meninggalkan bacaan al-Fatihah karena terlupa, maka tidak sah.
Karena rukun shalat tidak dapat gugur disebabkan lupa, seperti ruku’ dan sujud. Tidak gugur bagi orang
yang shalat, kecuali bagi masbuq dalam satu rakaat, maka imam menanggungnya.
Sama hukumnya seperti masbuq, orang yang berada dalam keramaian, atau terlupa bahwa ia sedang
shalat, atau terlambat dalam gerakan; ma’mum belum juga bangun dari sujud sementara imam sudah
ruku’ atau hampir ruku’. Atau ma’mum ragu membaca al-Fatihah setelah imamnya ruku’, lalu ia
terlambat membaca al-FatihahSyekh Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 2/25..

Sumber dari file pdf, 77 Tanya Jawab Shalat oleh Ustad Abdul Somad LC MA. Jika terdapat kesalahan copy paste dalam tulisan di atas, terutama untuk huruf arab, silahkan merujuk ke sumber aslinya. Download di sini.