Apa hukum menambahkan kata Sayyidina sebelum menyebut nama nabi?


قاؿ اتضنفية وال افعية : تندب السيادة لمحمد في الصلوات الإب اىيمة؛ لأف ز ادة الإخبار بالواقع ع سلوؾ الأدب، ف و أفضل من
الل م صل على سيد ا تػمد « : فك ب موضوع . وعليو: أ مل الصلاة على النبِ وآلو » لا تسودوني في الصلاة « ت و. وأما خبر
وعلى آؿ سيد ا تػمد، ما صليت على سيد ا إب اىيم وعلى آؿ سيد ا إب اىيم، وبارؾ على سيد ا تػمد وعلى آؿ سيد ا تػمد، ما
. » بار ت على سيد ا إب اىيم، وعلى آؿ سيد ا إب اىيم في العاتظ ، إ ك تزيد تغيد

Mazhab Hanafi dan Syafi’i: Dianjurkan mengucapkan Sayyidina pada Shalawat Ibrahimiyah, karena
memberikan tambahan pada riwayat adalah salah satu bentuk adab, maka lebih utama dilakukan
daripada ditinggalkan. Adapun hadits yang mengatakan: “Janganlah kamu menyebut Sayyidina
untukku”. Ini adalah hadits palsu. Maka shalawat yang sempurna untuk nabi dan keluarganya adalah:

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد، كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا
إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد، كما باركت على سيدنا إبراهيم، وعلى آل سيدنا
إبراهيم في العالمين، إنك حميد مجيد 33

Beberapa dalil menyebut Sayyidina sebelum nama Rasulullah Saw:
Memanggil nabi tidaklah sama seperti menyebut nama orang biasa, demikian disebutkan Allah Swt:
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada
sebahagian (yang lain)”. (Qs. An-Nur [24]: 63). Ini adalah perintah dari Allah SWT, meskipun perintah ini
bukan perintah yang mengandung makna wajib, akan tetapi minimal tidak kurang dari sebuah anjuran,
dan mengucapkan Sayyidina Muhammad adalah salah satu bentuk penghormatan dan memuliakan Nabi
Muhammad SAW.


Allah SWT berfirman :

) فَػنَادَتْو الْمَلَائِكَة وَىُوَ قَائِمٌ صَلدِّي فِي الْمِحْ ابِ أَ لَّا ف الللَّاو ػبَُ دِّ ؾَ بِيَحْ مُصَدِّدقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ الللَّاوِ وَسَيدِّدًا وَ صُورًا وَ بِيًّا مِنَ ال لَّا صاتضِِ ) 39

“Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang
membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu)”. (Qs.
Al ‘Imran *3+: 39). Jika untuk nabi Yahya as digunakan kata * وَسَيدِّدًا ], mengapa tidak boleh digunakan
untuk Nabi Muhammad Saw yang Ulul’Azmi dan memiliki keutamaan lainnya.
Adh-Dhahhak berkata dari Ibnu Abbas, “Mereka mengatakan, ‘Wahai Muhammad’, dan ‘Wahai
Abu al-Qasim’. Maka Allah melarang mereka mengatakan itu untuk mengagungkan nabi-Nya”. Demikian
juga yang dikatakan oleh Mujahid dan Sa’id bin Jubair. Qatadah berkata, “Allah memerintahkan agar
menghormati nabi-Nya, agar memuliakan dan mengagungkannya serta menggunakan kata Sayyidina”.
Muqatil mengucapkan kalimat yang sama. Imam Malik berkata dari Zaid bin Aslam, “Allah
memerintahkan mereka agar memuliakan Nabi Muhammad SAW”34.

Adapun beberapa dalil dari hadits, dalam hadits berikut ini Rasulullah SAW menyebut dirinya
dengan lafaz Sayyid di dunia, beliau juga mengingatkan akan kepemimpinannya di akhirat kelak dengan
keterangan yang jelas sehingga tidak perlu penakwilan, berikut ini kutipannya:

  1. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda,أَ ا سَيدِّدُ وَلَدِ آدََ ػوََْ الْ يَامَةِ
    “Aku adalah Sayyid (pemimpin) anak cucu (keturunan) Adam pada hari kiamat”35. Dalam riwayat lain
    dari Abu Sa’id Al Khudri dengan tambahan, وَلَا فَخْ “Bukan keangkukan”36. Dalam riwayat lain dari
    Abu Hurairah, أَ ا سَيدِّدُ النلَّااسِ ػوََْ الْ يَامَةِ
    “Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat”37.
  2. Dari Sahl bin Hunaif, ia berkata, “Kami melewati aliran air, kami masuk dan mandi di dalamnya, aku
    keluar dalam keadaan demam, hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau berkata,
    ‘Perintahkanlah Abu Tsabit agar memohon perlindungan’. Maka aku katakan, ا سَيدِّدِي وَال قَى صَاتضَِة
    ‘Wahai tuanku, bukankah ruqyah lebih baik’. Beliau menjawab, لَا رُقْػيَة إِلَّالا فِي ػفَْسٍ أَوْ تزَُةٍ أَوْ لَدْاَةٍ ‘Tidak ada
    ruqyah kecuali pada jiwa atau demam panas atau sengatan (binatang berbisa)’.”38 Perhatian, dalam
    hadits ini Sahl bin Hunaif memanggil Rasulullah SAW dengan sebutan Sayyidi dan Rasulullah SAW tidak
    mengingkarinya. Ini adalah dalil pengakuan dari Rasulullah SAW. Tidak mungkin Rasulullah SAW
    mengakui suatu perbuatan shahabat yang bertentangan dengan syariat Islam.
  3. Terdapat banyak riwayat yang shahih yang menyebutkan lafaz Sayyidi yang diucapkan para
    shahabat. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan Aisyah dalam kisah kedatangan Sa’ad bin
    Mu’adz untuk memimpin di Bani Quraizhah, Aisyah berkata: قُومُوا إِلَذ سَيدِّدِ م فَ ػلَلُوْه “Berdirilah kamu
    untuk (menyambut) pemimpin kamu”, mereka menurunkannya”39. Al Khaththabi berkata dalam
    penjelasan hadits ini, “Dari hadits ini dapat diketahui bahwa ucapan seseorang kepada sahabatnya, “Ya
    sayyidi (wahai tuanku)” bukanlah larangan, jika ia memang baik dan utama. Tidak boleh mengucapkan
    itu kepada seseorang yang jahat”.
    Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, قُومُوا لِسَيدِّدِ مْ “Berdirilah kamu untuk
    (menyambut) pemimpin kamu”. Tanpa lafaz, “mereka menurunkannya”40. Berdiri tersebut adalah untuk
    menghormati Sa’ad RA, bukan karena ia sakit. Jika mereka berdiri karena ia sakit, maka tentunya ucapan
    yang dikatakan kepadanya adalah, “Berdirilah kamu untuk menyambut orang yang sakit”, bukan
    “Berdirilah kamu untuk menyambut pemimpin kamu”. Yang diperintahkan untuk berdiri hanya sebagian
    mereka saja, bukan semuanya.
  4. Diriwayatkan dari Abu Bakarah, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW, Al Hasan bin Ali berada di
    sampingnya, saat itu ia menyambut beberapa orang, beliau berkata,
    إِ لَّا ف ابْنِي ىَ ا سَيدِّدٌ وَلَعَ لَّا ل الللَّاو أَفْ صْلِحَ بِوِ بػ فِئَتَػ عَظِيمَتَػ مِنْ الْمُسْلِمِ “Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin, semoga dengannya Allah mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin”41.
  5. Umar bin Al Khaththab RA berkata, أَبُو بَكْ سَيدِّدُ ا وَأَعْتَ سَيدِّدَ ا ػعَْنِي بِلَالًا
    “Abu Bakar adalah pemimpin kami, ia telah membebaskan pemimpin kami”, yang ia maksudkan adalah
    Bilal42.
  6. Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan bahwa Ummu Ad-Darda’ berkata, لَّادثَنِي سَيدِّدِي أَبُو
    اللَّادرْدَاءِ “Tuanku Abu Ad-Darda’ memberitahukan kepadaku, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, دُعَاء
    الأَخِ لأَخِيْوِ بِظَ الْ يْبِ مُسْتَ ابٌ “Doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya itu adalah doa
    yang dikabulkan”43.
  7. Rasulullah SAW bersabda, اتضَْسَنُ وَاتضُْسَ سَيدِّدَا شَبَابِ أَىْلِ اتصَْنلَّاةِ “Al Hasan dan Al Husein adalah dua
    pemimpin pemuda penghuni surga”44.
  8. Rasulullah SAW bersabda,
    أَبُو بَكْ وَعُمَ سَيدِّدَا وؿِ أَىْلِ اتصَْنلَّاةِ مِنْ الْأَلَّاولِ وَالْآخِ نَ مَا خَلَا النلَّابِيدِّ وَالْمُ سَلِ “Abu Bakar dan Umar adalah dua pemimpin orang-orang tua penghuni surga dari sejak manusia generasi awal hingga terakhir, kecuali para nabi dan rasul”45.
  9. Rasulullah SAW bersabda, اَتضَْلِيْمُ سَيدِّدٌ فِي الدُّ ػيَا وَسَيدِّدٌ فِي الآخِ ة “Orang yang sabar itu menjadi pemimpin di
    dunia dan akhirat”46.
  10. Rasulullah SAW berkata kepada Fathimah Az-Zahra’ RA,
    أَمَا تَػ ضِ أَفْ تَكُوْنِيْ سَيدِّدَة سَاءِ اتصَْنلَّاةِ
    “Apakah engkau tidak mau menjadi pemimpin wanita penduduk surga”47.
  11. Al Maqburi berkata, “Kami bersama Abu Hurairah, kemudian datang Al Hasan bin Ali, ia
    mengucapkan salam, orang banyak membalasnya, ia pun pergi, Abu Hurairah bersama kami, ia tidak
    menyadari bahwa Al Hasan bin Ali datang, lalu dikatakan kepadanya, “Ini adalah Al Hasan bin Ali
    mengucapkan salam”, maka Abu Hurairah menjawab, وَعَلَيْكَ ا سَيدِّدِي “Keselamatan juga bagimu wahai
    tuanku”. Mereka berkata kepada Abu Hurairah, “Engkau katakan ‘Wahai tuanku’?”. Abu Hurairah
    menjawab, أَشْ دُ أَفّ رَسُوؿَ الللَّاوِ صَللَّاى الللَّاو عَلَيْوِ وَسَللَّامَ قاَؿَ “Aku bersaksi bahwa Rasulullah SAW bersabda, إِ لَّاو
    سَيدِّدٌ “Ia –Al Hasan bin Ali- adalah seorang pemimpin”48.
    Kata Sayyid dan Sayyidah digunakan pada Fathimah, Sa’ad, Al Hasan, Al Husein, Abu Bakar,
    Umar dan orang-orang yang sabar secara mutlak, dengan demikian maka kita lebih utama untuk
    menggunakannya.
    Dari dalil-dalil diatas, maka jumhur ulama muta’akhkhirin dari kalangan Ahlussunnah
    waljama’ah berpendapat bahwa boleh hukumnya menggunakan lafaz Sayyid kepada Nabi Muhammad
    SAW, bahkan sebagian ulama berpendapat hukumnya dianjurkan, karena tidak ada dalil yang
    mengkhususkan dalil-dalil dan nash-nash yang bersifat umum ini, oleh sebab itu maka dalil-dalil ini tetap
    bersifat umum dan lafaz Sayyid digunakan di setiap waktu, apakah di dalam shalat maupun di luar
    shalat.
    Imam Ibnu ‘Abidin berkata dalam kitab Hasyiahnya sesuai dengan pendapat pengarang kitab Ad-
    Durr, Ibnu Zhahirah, Ar-Ramli Asy-Syafi’i dalam kitab Syarahnya terhadap kitab Minhaj karya Imam
    Nawawi dan para ulama lainnya, menurutnya, “Yang paling afdhal adalah mengucapkannya dengan lafaz
    Sayyid”.
    Dalam kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi, halaman: 4 disebutkan, “Diriwayatkan kepada kami
    dari As-Sayyid Al Jalil Abu Ali Al Fudhail bin ‘Iyadh, ia berkata, ‘Tidak melaksanakan suatu amal karena
    orang banyak adalah perbuatan riya’, sedangkan melaksanakan suatu amal karena orang banyak adalah
    syirik, keikhlasan akan membuat Allah mengampunimu dari riya’ dan syirik itu’.” Kitab ini ditahqiq oleh
    Abdul Qadir Al Arna’uth, beliau juga melakukan takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat dalam kitab
    ini. Pada bagian bawah, halaman: 4, no.2, beliau berkata, “Di dalamnya terkandung hukum boleh
    menggunakan kata Sayyid kepada selain Allah SWT. Ada pendapat yang mengatakan hukumnya makruh
    jika dengan huruf alif dan lam ( اَ لسَّ يِّدُ ). Ini adalah dalil boleh hukumnya menggunakan kata As-Sayyid
    kepada selain Allah SWT. Demikian penjelasan dari Syekh Abdul Qadir Al Arna’uth dalam kitab Al Adzkar,
    cetakan tahun 1971M, Dar Al Mallah.
    Bagi orang yang sedang melaksanakan shalat, pada saat tasyahhud dan pada saat membaca
    shalawat Al Ibrahimiah, dianjurkan agar mengucapkan Sayyidina sebelum menyebut nama Nabi
    Muhammad SAW. Maka dalam shalawat Al Ibrahimiah itu kita ucapan lafaz Sayyidina. Karena sunnah
    tidak hanya diambil dari perbuatan Rasulullah SAW, akan tetapi juga diambil dari ucapan beliau.
    Penggunaan kata Sayyidina ditemukan dalam banyak hadits Nabi Muhammad SAW. Ibnu Mas’ud
    memanggil beliau dalam bentuk shalawat, ia berkata, “Jika kamu bershalawat kepada Rasulullah SAW,
    maka bershawalatlah dengan baik, karena kamu tidak mengetahui mungkin shalawat itu diperlihatkan
    kepadanya”. Mereka berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Ajarkanlah kepada kami”. Ibnu Mas’ud berkata,
    “Ucapkanlah:

الللَّا لَّا م اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَتزَْتَكَ وَبػ اتِكَ عَلَى سَيدِّدِ الْمُ سَلِ وَإِمَاِ الْمُتلَّا وَخَاتَمِ النلَّابِيدِّ تُػَ لَّا مدٍ عَبْدِؾَ وَرَسُولِكَ

“Ya Allah, jadikanlah shalawat, rahmat dan berkah-Mu untuk pemimpin para rasul, imam orang-orang
yang bertakwa, penutup para nabi, Nabi Muhammad SAW hamba dan rasul-Mu …”49.

Dalam kitab Ad-Durr Al Mukhtar disebutkan, ringkasannya, “Dianjurkan mengucapkan lafaz
Sayyidina, karena tambahan terhadap berita yang sebenarnya adalah inti dari adab dan sopan santun.
Dengan demikian maka menggunakannya lebih afdhal daripada tidak menggunakannya. Disebutkan
Imam Ar-Ramli Asy-Syafi’i dalam kitab Syarhnya terhadap kitab Al Minhaj karya Imam Nawawi, demikian
juga disebutkan oleh para ulama lainnya.
Memberikan tambahan kata Sayyidina adalah sopan santun dan tata krama kepada Rasulullah
SAW. Allah berfirman, “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya
dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang
yang beruntung”. (Qs. Al A’raf *7+: 157). Makna kata At-Ta’zir adalah memuliakan dan mengagungkan50.
Dengan demikian maka penetapannya berdasarkan Sunnah dan sesuai dengan isi kandungan Al Qur’an.
Sebagian ulama berpendapat bahwa adab dan sopan santun kepada Rasulullah SAW itu lebih baik
daripada melaksanakan suatu amal. Itu adalah argumentasi yang baik, dalil-dalilnya berdasarkan haditshadits
shahih yang terdapat dalam kitab Shahih Al Bukhari dan Muslim, diantaranya adalah ucapan
Rasulullah SAW kepada Imam Ali, مْحُ رَسُوؿَ الللَّاوِ . قَاؿَ : لَا وَالللَّاوِ لَا أَتْػُوؾَ أَبَدًا “Hapuslah kalimat, ‘Rasulul (utusan) Allah’.” Imam Ali menjawab,
“Tidak, demi Allah aku tidak akan menghapus engkau untuk selama-lamanya”51.

Ucapan Rasulullah SAW kepada Abu Bakar,

مَا مَنَػعَكَ أَفْ تَػثْبُتَ إِذْ أَمَ تُكَ فَػ اؿَ أَبُو بَكْ مَا افَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَة أَفْ صَلدِّيَ بػ دَيْ رَسُوؿِ الللَّاوِ صَللَّاى الللَّاو عَلَيْوِ وَسَللَّامَ

“Apa yang mencegahmu untuk menetap ketika aku memerintahkanmu?”. Abu Bakar menjawab, “Ibnu
Abi Quhafah tidak layak melaksanakan shalat di depan Rasulullah SAW”52.

Adapun hadits yang sering disebutkan banyak orang yang berbunyi, لَا تُسَيدِّدُوْنِيْ فِي ال لَّا صلاَة
“Janganlah kamu menggunakan kata Sayyidina pada namaku dalam shalat”. ini adalah hadits maudhu’
dan dusta, tidak boleh dianggap sebagai hadits. Al Hafizh As-Sakhawi berkata dalam kitab Al Maqashid
Al Hasanah, “Hadits ini tidak ada asalnya”. Juga terdapat kesalahan bahasa dalam hadits ini, karena asal
kata ini adalah اَ اَا اَ لدُ وْدُا jadi kalimat yang benar adalah 53 .اَ لدُ وْدُا وْ نِ وْ Cukuplah demikian bagi orang
yang mau menerima dalil, walhamdulillah rabbil ‘alamin.

Jika menambahkan Sayyidina itu dianggap menambah bacaan shalat, apakah menambah bacaan
selain yang ma’tsur (yang diajarkan Rasulullah Saw) itu membatalkan shalat? Imam Ibnu Taimiah
menyebutkan dalam Majmu’ Fatawa-nya:

وَىَ ا تَحْ ي قَػوْؿِ أَتزَْد فَ لَّاوُ لدَْ ػبُْطِلْ ال لَّا صلَاةَ بِالدُّعَاءِ اَيْرِ الْمَ ثُورِ ؛ لَكِنلَّاوُ لدَْ سْتَحِبلَّاو

Ini adalah tahqiq terhadap ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, sesungguhnya shalat tidak batal dengan
doa yang tidak ma’tsur, akan tetapi Imam Ahmad bin Hanbal tidak menganjurkannya54.

 

Sumber dari file pdf, 77 Tanya Jawab Shalat oleh Ustad Abdul Somad LC MA. Jika terdapat kesalahan copy paste dalam tulisan di atas, terutama untuk huruf arab, silahkan merujuk ke sumber aslinya. Download di sini.