Adakah dalil keutamaan berdoa setelah shalat wajib?

عن أبي أمامة رضي اللّو عنو قاؿ :
قيل ل سوؿ اللّو صلى اللّو عليو وسلم : أيّ الدعاء أتشع ؟ قاؿ : " كْتوبات
َ
جَوْؼُ الللَّايْلِ الآخِ وَدُبػ ال لَّا صلَوَاتِ اتظ "
قاؿ الترم ي : د ث سن

Dari Abu Umamah, ia berkata:

Dikatakan kepada Rasulullah Saw, “Apakah doa yang paling didengarkan?”.
Beliau menjawab, “Doa di tengah malam dan doa di akhir shalat wajib”.
Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan”. (HR. at-Tirmidzi). Hadits ini dinukil Imam an-Nawawi dalam al-
Adzkar.


Riwayat Kedua:

« فَػ اؿَ .» ا مُعَاذُ وَالللَّاوِ إِ دِّ نِّ لأُ بُّكَ وَالللَّاوِ إِ دِّ نِّ لأُ بُّكَ « عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- أَخَ بِيَدِهِ وَقَاؿَ
.» أُوصِيكَ ا مُعَاذُ لاَ تَدَعَ لَّا ن دُبُ دِّ ل صَلاَةٍ تَػ وؿُ الللَّا لَّا م أَعِدِّنِ عَلَى ذِ ؾَ وَشُكْ ؾَ وَ سْنِ عِبَادَتِكَ

Dari Mu’adz bin Jabal, sesungguhnya Rasulullah Saw menarik tangan Muadz seraya berkata: “Wahai
Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku sangat menyayangimu, demi Allah sungguh aku sangat
menyayangimu. Aku pesankan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai
shalatmu engkau ucapkan: “Ya Allah, tolonglah aku agar mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan
beribadah dengan ibadah yang baik kepada-Mu”. (HR. Abu Daud).

Riwayat Ketiga:

الللَّا لَّا م رَبػ لَّانَا وَرَ لَّا ب دِّ ل شَىْءٍ أَ ا شَ يدٌ أَ لَّاكَ أَ تَ اللَّا بُّ « وَقَاؿَ سُلَيْمَافُ افَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- ػ وؿُ دُبُ صَلاَتِوِ
وَ دَؾَ لاَ شَ كَ لَكَ الللَّا لَّا م رَبػ لَّانَا وَرَ لَّا ب دِّ ل شَىْءٍ أَ ا شَ يدٌ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا عَبْدُؾَ وَرَسُولُكَ الللَّا لَّا م رَبػ لَّانَا وَرَ لَّا ب دِّ ل شَىْءٍ أَ ا شَ يدٌ أَ لَّا ف الْعِبَادَ للَّا مْ
إِخْوَةٌ الللَّا لَّا م رَبػ لَّانَا وَرَ لَّا ب دِّ ل شَىْءٍ اجْعَلْنِِ تُؼْلِصًا لَكَ وَأَىْلِى دِّ ل سَاعَةٍ الدُّ ػيَا وَالآخِ ةِ ا ذَا اتصَْلاَؿِ وَالإِ اِ اتشَْعْ وَاسْتَ بِ الللَّاوُ
.» أَ بَػ الأَ بَػ الللَّا لَّا م ورَ ال لَّا سمَوَاتِ وَالأَرْضِ

Sulaiman berkata: “Setelah selesai shalat Rasulullah Saw berdoa dengan doa ini “Ya Allah Tuhan kami
dan Tuhan segala sesuatu, aku saksi bahwa sesungguhnya Engkau adalah Tuhan, Engkau Maha Esa, tiada
sekutu bagi-Mu. Ya Allah, Engkau Tuhan segala sesuatu. Aku saksi bahwa Muhammad adalah hamba-Mu
dan rasul-Mu. Ya Allah Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, aku saksi bahwa hamba-hamba-Mu
semuanya adalah bersaudara. Ya Allah Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, jadikanlah aku ikhlas
kepada-Mu, juga keluargaku, dalam setiap saat di dunia dan akhirat, wahai Yang Memiliki Kemuliaan dan
keagungan. Dengarkan dan perkenankanlah wahai Tuhan Yang Maha Besar. Ya Allah, Engkaulah cahaya
langit dan bumi”. (HR. Abu Daud).

Riwayat Keempat:

الللَّا لَّا م أَصْلِحْ لِذ دِ نِِ اللَّا ى جَعَلْتَوُ لِذ عِصْمَةً وَأَصْلِحْ لِذ دُ ػيَاىَ اللَّاتَِّ جَعَلْتَ فِي ا مَعَاشِى
الللَّا لَّا م إِ دِّ نِّ أَعُوذُ بِ ضَاؾَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِعَفْوِؾَ مِنْ مَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ
لاَ مَا عَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَػعْتَ وَلاَ ػنَْػفَعُ ذَا اتصَْدِّد مِنْكَ اتصَْدُّ .
قَاؿَ وَ لَّادثَنِِ عْبٌ أَ لَّا ف صُ يْبًا لَّادثَوُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا -صلى الله عليو وسلم- افَ ػ وتعُ لَُّا ن عِنْدَ ا صِ افِوِ مِنْ صَلاَتِوِ

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang telah Engkau jadikan sebagai penjaga bagiku. Perbaikilah
untukku duniaku yang telah Engkau jadikan kehidupanku di dalamnya. Ya Allah aku berlindung dengan
ridha-Mu dari murka-Mu, aku berlindung dengan ampunan-Mu dari azab-Mu. Aku berlindung dengan-
Mu. Tidak ada yang mencegah atas apa yang Engkau beri. Tidak ada yang memberi atas apa yang Engkau
cegah. Yang memiliki kemulliaan tidak ada yang dapat memberikan manfaat, karena kemuliaan itu dari-
Mu”. Shuhaib menyatakan bahwa Rasulullah Saw mengucapkan kalimat ini ketika selesai shalat. (HR. an-
Nasa’i).
Adapun berdoa bersama setelah shalat, masalah ini dijelaskan Imam al-Mubarakfuri dalam
Tuhfat al-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi:

اِعْلَمْ أَ لَّا ف عُلَمَاءَ أَىْلِ اتضَْدِ ثِ قَدْ اِخْتَػلَفُوا فِي ىَ ا اللَّالمَافِ فِي أَ لَّا ف الْإِمَاَ إِذَا اِ صَ ؼَ مِنْ ال لَّا صلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ ىَلْ يََُوزُ لَوُ أَفْ دْعُوَ رَافِعًا دَ وِ
وَ ػ دِّمنَ مَنْ خَلْفَوُ مِنْ الْمَ مُومِ رَافِعِي أَ دِ مْ فَػ اؿَ بػعَْضُ مْ بِاتصَْوَازِ ، وَقَاؿَ بػعَْضُ مْ بِعَدَِ جَوَازِهِ ظَنًّا مِنْػ مْ أَ لَّاوُ بِدْعَةٌ ، قَالُوا إِ لَّا ف ذَلِكَ لدَْ
ػثَْبُتْ عَنْ رَسُوؿِ الللَّاوِ صَللَّاى الللَّاوُ عَلَيْوِ وَسَللَّامَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ بَلْ ىُوَ أَمْ تُػْدَثٌ وَ لُّ تُػْدَثٍ بِدْعَةٌ وَأَلَّاما الْ ائِلُوفَ بِاتصَْوَازِ فَاسْتَدَلُّوا بِخَمْسَةِ
أَ ادِ ثَ .

Ketahuilah bahwa ulama hadits berbeda pendapat pada zaman ini tentang imam ketika selesai shalat
wajib, apakah boleh berdoa dengan mengangkat tangan dan diaminkan ma’mum yang juga mengangkat
tangan. Sebagian ahli hadits membolehkannya. Sebagian yang lain menyatakan tidak boleh karena
menurut mereka itu perbuatan bid’ah. Menurut mereka perbuatan itu tidak ada dalam hadits Rasulullah
Saw dengan sanad yang shahih, akan tetapi perkara yang dibuat-buat, semua yang dibuat-buat itu
bid’ah. Adapun mereka yang membolehkan berdalil dengan lima hadits65.

 

Sumber dari file pdf, 77 Tanya Jawab Shalat oleh Ustad Abdul Somad LC MA. Jika terdapat kesalahan copy paste dalam tulisan di atas, terutama untuk huruf arab, silahkan merujuk ke sumber aslinya. Download di sini.