Ternyata begini wawasan berbangsa dan bernegara Ustadz Abdul Somad.

Pondok Pesantren Sidogiri 03/May/2018 Berbangsa bernegara Sidogiri View : 695 |
Menguatkan Peran Santri dalam Beragama Berbangsa dan Bernegara | Pondok Pesantren Sidogiri, 13 Syaban 1439 H | 28 April 2018.
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai berbangsa, kita ini bangsa. Minggu kemarin saya ke Australia, ada mesjid besar namanya Mesjid Libanon (Libanese Mosque). Saya diberitahu bahwa muslim asal Indonesia di Australia baru saja membeli mesjid di Melbourne, namanya Mesjid Baitul Makmur. Kenapa kita membuat mesjid yang berciri khas bangsa kita?

karena (walaupun) sama-sama bersyahadat tapi kita punya ciri kebangsaan tersendiri. Kalau kita pergi ke Mekah, melihat ada orang memakai peci, pakai sarung nah itu pasti orang Indonesia. Ini budaya kita, walaupun ada yang dari luar tapi kita mengkreasikannya sesuai dengan budaya kita.

Islam datang tidak merubah kita menjadi arab.

Kita tetap dengan ciri khas kita. Kita tetap dengan ciri khas kita. Yang jawa tetap dengan jawanya, tetap dengan tradisinya selama tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadist. Pakai blangkon tidak ada salahnya. Bahkan ada shalawat yang menggunakan irama lagu lir-ilir. Irama lagu itu tidak ada di Mesir. Islam tidak pernah membunuh seni. Kalaulah dulu para sunan yang mengajarkan Islam menggunakan golok panjang maka kita tidak akan Islam sekarang. Jadi Islam tidak menghilangkan tradisi. Zaman nabi Muhammad masyarakat sudah ada tradisi menyembelih kambing ketika anak lahir. Darah kambing tersebut di usapkan ke wajah dan rambut si anak. Setelah nabi Islam datang, tradisi ini di rubah dengan membuang yang tidak baiknya (darah yang diusap) tetapi daging tetap baik. Begitu juga dengan adat tradisi bangsa kita, selagi tidak bertentangan dengan Qur'an dan Hadist maka silahkan lanjutkan.

Adik-adik ini (santri), kalian tidak belajar mengenai produknya tetapi belajar mengenai mesin pencetak, pabriknya itulah dia Ushul fiqh. Kalian belajar berbagai kitab dari ulama-ulama terkenal. Kalau perintahnya kuat berarti wajib, kalau kurang kuat berartisunat, kalau larangannya kuat berarti haram, kalau larangannya kurang kuat berarti makruh, tidak disuruh dan tidak dilarang berarti mubah. Kalian para santri menjadi ujung tombak. Kalian akan diminta fatwa yang menenangkan, mencerdaskan yang memberikan pencerahan. Sehingga kita tetap menjaga kebangsaan kita bangsa Indonesia.

Indonesia ini unik, 17000 pulau bisa disatukan. Negara lain itu awalnya besar. Ada dulu negara Uni Sovyet, Negara besar, tetapi sekarang menjadi negara kecil-kecil. Indonesia kebalikannya. Dulu kecil-kecil, ada kerajaan Aceh, dibawahnya ada kerajaan Melayu Deli, kecil-kecil. Kerajaan melayu Serdang, kecil, Kerajaan Melayu Asahan, kemudian ada kerajaan Melayu Riau Siak Sri Indrapura, kecil-kecil. Ada kerajaan-kerajaan lain-lain kerajaan Pasundan, kerajaan Demak tapi kemudian kita bersatu menjadi negara yang besar. Jika ada orang yang bertanya "apa tidak khawatir menjadi pecah?" kita tidak seperti mereka yang besar dulu kemudian pecah. Kita sudah pernah pecah dulu tidak akan pecah lagi dengan syarat kitalah yang menjaganya.

Benteng terbesar Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah pesantren dan umat Islam.

Pancasila itu siapa yang mengusungnya? Ulama-ulama kita dulu. Ini fakta sejarah.

Maka umat Islam tidak perlu fobia terhadap nasionalisme.

Kita sekarang ini berhadapan dengan dua kelompok. Yang satu terlalu ketakutan terhadap Islam, maka muncul Islam fobia. Padahal Islam itu datang sebagai rahmatan lil alamin. Alamin berarti semuanya, bukan rahmatan lil muslimin (untuk muslim saja).

Pembahasan selanjutnya adalah bernegara.

Jangan karena nasionalisme kita menganggap keislaman kita menjadi rusak.

Ada dua kelompok. Yang satu menganggap kalau saya bernegara Kesatuan Republik Indonesia maka tauhid saya menjadi rusak. Tidak! tauhid tidak rusak .

Negara ini ber Ketuhanan yang maha esa. Tunggal, esa, tidak berbilang itu adalah Qul Huallahu ahad.

Dua kelompok ini saling serang menyerang. Yang satu takut kepada orang Islam, maka ini Islam fobia. Yang satu lagi takut kepada nasionalisme.
Dengan bernegara Republik Indoneisa keislaman kita tidak rusak.

Negara ini tidak melarang kita beraktifitas apapun.

Mau jadi apa? mau jadi ustadz silahkan. Saya tidak pernah ditahan karena berceramah. Beberapa kasus itu oknum-oknum saja. Kebanyakan karena isu teroris-teroris.
Negara kita sudah baik maka kita sampaikan kepada siapapun "hai saudaraku, mungkin engkau berbeda denganku dalam keyakinan tetapi engkau tetap saudaraku dalam negara kesatuan Republik Indonesia".

Islam tidak anti kepada produk dari orang non muslim. Silahkan pakai. Ketika perang khandak, datang Salman Al Farisi RA, Ya Rasul, kami punya strategi dari Persia (Al Farisi berasal dari Persia)". apa strategi perangnya? Gali parit (khandak) di sekeliling kota supaya kuda kafir Qurais dari Mekah tidak bisa lewat. Jadi strategi dari Persia ini dipakai nabi dalam perang khandak.

Artinya produk barat silahkan pakai selagi tidak bertentangan dengan Quran dan hadis.

 


Admin
Jumlah Catatan: 0
No records