Tentang Hubungan Ustadz Abdul Somad dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

I'M SINTESA 14/May/2018 UAS dan HTI Penasehat HTI Riau Sidogiri View : 3923 |
Pertanyaan
Kami mohon klarifikasi mengenai adanya hubungan Ustadz Abdul Somad dengan kelompok Hizbut Tahrir. Apakah hubungan secara struktural, emosional atau ideologi antara ustadz Abdul Somad dengan hizbut tahrir Indonesia (HTI).
Musyawarah Ustadz Pondok Sidogiri Bersama Ustadz Abdul Somad

JawabanUAS:

Tentang hubungan struktural ada tersebar dalam bentuk pdf bahwa saya penasehat, pembina hizbut tahrir Riau. Itu ada tersebar dalam bentuk file pdf. Lalu saya klarifikasi langsung ke ketua hizbut tahrir Riau. Ustadz Muhammadun waktu itu. Saya kirimkan file pdf itu dan saya tanyakan ini siapa yang mengangkat saya, kenapa saya tidak pernah mendapat SK (surat keputusan) nya. Kata beliau, kamipun tidak tau siapa yang membuat dan siapa yang menshare. Jadi artinya secara struktural saya tidak pernah (ada hubungan dengan menjadi penasehat, pengurus atau pembina HTI ).

Kemudian, berkait dengan hubungan ideologi. maka sebagai seorang muslim, saya percaya fiqhnya terbagi. Ada ibadah (shalat, zakat), ada fiqih muamalat (jual beli, gadai, hutang piutang), ada fiqih siasah (politik Islam), termasuklah istilah al khilafah al islamiah. Bahwa Islam mengatur urusan politik, seperti yang dituliskan oleh Imam Al Mawardi dalam Al Ahkam As Sultoniyah. Jadi saya mengakui ada politik dalam Islam.

Lalu kemudian secara sosial, saya menganggap sahabat-sahabat dari hizbut tahrir, sama dengan hubungan saya dengan kawan-kawan dari al wasiyah, dari Persatuan Tarbiyah Islamiah, Persis, NU, Muhammadiyah. Saya menganggap ini salah satu dari organisasi sosial kemasyarakatan. Kebetulan hubungan kita baik. Dan di kampus, mereka yang ikut itu adalah anak-anak muda.

Ketika sahabat-sahabat ini melihat dengan saya ada kesamaan bahwa masalah sosial bisa diselesaikan dengan politik, mungkin mereka merasa, menyangka Abdul Somad ini ada kesamaan yakni sama-sama meyakini bahwa maslah sosial bisa diselesaikan dengan politik Islam. Lalu saya sampaikan, kalau kita punya kekuasaan, kita bisa terapkan (hukum) zakat, kita bisa kebaikan-kebaikan.

Hanya saja dipotong (videonya). Ketika saya menganjurkan untuk mencoblos dalam pemilihan bupati, walikota. Siapa yang tidak mencoblos berarti membiarkan. Disitu ada perbedaan. Abdul Somad ada persamaan dan ada perbedaan. Nah pertemuannya (persamaan) ini yang diliput tapi perbedaannya tidak (dipotong).

Kemudian ketika saya (UAS) di serang dan dihujat ketika menyetujui demokrasi, mana videonya?

Kenapa tidak muncul ke permukaan? Saat saya diundang dalam acara bedah buku tentang khilafah dalam kitab kuning. Saat itu saya ditanya didepan orang banyak. Apa pendapat ustad tentang pilkada dan pileg (pemilihan legislatif). Disitu saya jelaskan muslim harus memilih. Apa pendapat ustad tentang demokrasi? Demokrasi bisa baik. Contoh. ada sepuluh anak sekolah. sembilan mengatakan cabut (bolos sekolah) dan satu tidak maka saat itu demokrasi menjadi tidak baik. Saat satu anak ingin cabut (bolos) dan sembilan ingin tetap sekolah maka demokrasi menjadi baik. Memilihlah (pilkada, pileg dll). Seorang muslim harus bersaksi dihadapan Allah bahwa orang ini layak dipilih menjadi pemimpin. Dan itu berseberangan dengan saya (dengan HTI). Kenapa saat saya bertemu dikatakan saya sama, mengapa saat berseberangan tidak (disebutkan)? Ini penilaian tidak fair.

Itulah penjelasan saya tentang tiga hal, secara struktural secara ideologi, keyakinan dan secara hubungan ukhuwah islamiah.


Admin
Jumlah Catatan: 0
No records