Teks Pidato UAS pada Penganugerahan Tokoh Perubahan Tahun 2017 oleh Republika

Almunai Ajl 12/Apr/2018 Tokoh Perubahan Republika Jakarta View : 2493 |
Acara Penobatan Tokoh Perubahan 2017 versi Republika Penganugerahan Tokoh Perubahan Tahun ini oleh Republika kepada Ustadz Abdul Somad Lc MA.Tempat di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, 10 April 2018

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah, bershalawat kepada Rasulullah dengan ucapan Alahummashali ala sayidina Muhammad, wa ala ali sayidina Muhammad.

Kalau tuan memakan ikan
Jangan dimakan dengan daun asparagus
Melihat Pak Zulkifli Hasan
Ingat janji bulan Agustus

Sama-sama kita hormati, Pak Erick Thohir beserta keluarga besar Republika. Lebih khusus ibunda beliau. Saya melihat gambar ibu beliau tadi jadi teringat ibu saya. Melihat penyanyi tadi, lupa pula...
Kemudian Bapak Wakapolri.

Hadirin hadirat, muslimin muslimat, saudaraku yang mungkin tidak seakidah, tetapi engkau tetaplah satu kebangsaan. Selamat malam, salam sejahtera buat kita semua. Kedua tokoh sebelumnya bingung, atas dasar apa mereka dipilih. Tentu sayapun mengikut mereka juga. Ketika saya dapat berita melalui WA, "Ustadz, nanti ustadz akan dapat penghargaan tokoh perubahan". Lalu saya tanya, siapa yang akan memberikan? Republika. Saya tanya, Republika itu masih ada sekarang?

Lalu kemudian. Kalau dikatakan perubahan itu standarnya apa, wallahualam bishowab. Tapi yang jelas saya adalah ustadz yang tidak berubah dari dulu. peci hitam, baju koko. Sampai banyak jamaah yang komplain di komentar youtube itu "Ustadz, gantilah baju, karena kami payah membedakan mana ceramah yang lama dan mana yang baru". Tapi Insya Allah setelah selesai ini, saya yakin setelah pertemuan dengan prestasi batik ini, nampaknya pakai baju batik.

Setelah saya diundang dibeberapa tempat barulah saya terasa susahnya berkomunikasi. Diundang oleh orang Aceh, mereka bahasa Aceh. Diundang kawan-kawan di Makassar, mereka bahasa Bugis, bahasa Makassar. Disitulah saya tau mengapa bangsa ini bisa bersatu. Ternyata yang menyatukan itu adalah bahawa Melayu.

Saya ke Aceh, senyum mereka, senyum juga saya, ternyata yang disenyumkan saya. Pergi saya ke Jawa, ke Malang, ke Surabaya. Saya WA teman saya yang dulu lama di Mesir. Salam pertama "Pribun khabare apik....., pergi saya ke kampung Batak, orang Batak Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan. Terpaksa saya tanya lagi kawan saya yang dulu sama kuliah, ini apa bahasa Bataknya. Jadi begitu susahnya. Tapi dulu ada seorang Mufti dari Aceh. Menulis buku fiqih, bagaimana cara shalat, bagaimana cara puasa, bagaimana cara memotong kurban. Buku itu berjudul "As-Shirat al-Mustaqim" , tapi isinya pakai bahasa Melayu. Kemudian buku itu dijelaskan lebih panjang lebar oleh Mufti Kerajaan Banjar, juga pakai bahasa Melayu. Buku itu berjudul "Sabilal Muhtadin" . Orang Aceh, orang Banjar, dua pulau yang berbeda dengan bahasa yang berbeda tapi disatukan oleh bahasa Melayu.

Begitu sampai di airport maka yang melihat ada gambar candi, ada gambar bunga, lalu bagaimana dengan kami Melayu? maka penghormatan terbesar bagi bangsa melayu adalah ketika bahasa mereka dipakai untuk komunikasi dari mulai Sabang sampai ke Papua. Bahkan sampai, kalau kita pergi ke Makkah al Mukaromah. Sekarang banyak jemaah haji, jemaah umroh yang sebelumnya bertanya kepada saya "Ustadz, bagaimana ini nanti di tanah suci, bahasa Arab". Saya bilang tidak usah khawatir, tidak perlu kalian belajar bahasa Arab. Begitu pulang mereka senyum "betul Pa Ustadz, penjual, pedagang di sana sudah berbahasa Indonesia".

Bila hari ini ada perbedaan diantara kita, tapi lebih besar lagi persamaan.

Mari kita bekerjasama dalam perkara-perkara yang kita sepakati.

Adapun yang kita berbeda, mari kita berlapang dada menerima perbedaan.

Saya dengan Pak Erick dilihat tentu hampir tak ada persamaannya. Beliau pakai baju hitam, saya pakai baju putih. Beliau pakai kain, saya pakai celana panjang. Tapi perbedaan itu tidak membuat kami berpisah, dan saya tidak ejek dia. Justru saya puji beliau, lebih baik pakai baju hitam tapi hatinya putih daripada pakai baju putih bajunya hitam. Saya tidak pandai menyindir orang, saya termasuk ustadz yang lurus-lurus saja.

Kalau makan ikan gulama,
Jangan dimakan didalam pinggan
Sebenarnya saya bisa berlama-lama
Tapi saya takut ditenggelamkan.

Wasalamualaikum Warahmatullah wabarakatuh.


Admin
Jumlah Catatan: 0
No records