Teks khutbah Jumat Ustad Abdul Somad di Malaysia : Peduli pada Saudara : Palestina

Amih Hindarsih 17/Feb/2018 Khutbah Jumat Peduli Palestina Malaysia View : 7751 |
Teks khutbah Jumat Ustad Abdul Somad di Malaysia : Peduli pada Saudara : Palestina
15 Februari 2018

Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Subhanallahu wa Ta’ala, Islam mengajarkan kita peduli pada saudara seperti peduli pada diri sendiri.  "La yu'minu ahadukum" kamu tidak beriman "hatta yuhibbu li akhihi" sampai kau sayang kepada saudaramu "ma yuhibbu li nafsihi" sama seperti sayang pada diri sendiri. Bila kau cubit tanganmu terasa sakit, begitu juga kalau tangan orang lain. Bila kau tampar pipimu terasa perih, begitu juga kalau kau pukulkan pada pipi orang lain. Oleh sebab itu diajarkan dalam Islam "siapa saja yang tidak peduli pada saudaranya yang seiman maka dia bukanlah orang yang beriman dalam pandangan Allah Subhanallahu wa Ta’ala". Iman tidak hanya diukur dari berapa kali engkau ke Mekah melaksanakan haji dan umroh, keimanan tidak dipandang apakah engkau shalat tahajud di waktu malam. Memanglah amalan-amalan itu baik, tapi juga akan dilihat bagaimana engkau peduli pada saudaramu seiman.
Ada seorang perempuan tidak baik, perempuan yang jahat dimata manusia lalu kemudian dia haus berada ditepi perigi (sumur) lalu dia ambil air itu dia pandang seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya karena haus. Lalu kemudian (karena) kelembutan hatinya dia berikan setetes dua tetes air, kedalam sepatunya dia berikan kepada anjing itu. Padahal ini binatang haram, najis yang apabila dia teteskan airliurnya kedalam bejana kamu, tumpahkan, lalu siramkan dengan air tujuh kali, satu diantaranya dengan air tanah. Mesti disamak, begitu dalam Syariat Sayyidina wa Maulana Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam. Tapi apa yang terjadi? Allah mengampuni dosanya lalu kemudian Allah memasukkannya ke dalam surga. Kelembutan hati. Padahal ketiga-tiganya ini tidak baik, perempuan yang tidak baik, dari tempat yang tidak baik, kotor, kepada binatang yang tidak baik. Tapi ternyata dalam ketiga benda yang tidak baik ini ada kelembutan hati. Dalam hati yang basah ada bernilai shadaqoh.
Begitulah Islam mengajarkan. Sampai-sampai ada seorang hamba, menarik seekor kambing lalu diasahnya pisaunya yang tumpul dihadapan mata kambing itu. Nabi marah, apa kata nabi "apakah kau ingin kambingmu itu mati berkali-kali?". Dia takut melihat mata pisau yang tajam diasah didepan matanya, dihadapan matanya. Lalu kemudian kata nabi "kalau kau menyembelih, sembelihlah dengan baik; kalau kau membunuh, bunuhlah dengan baik; jangan menyiksa". Itu kepada binatang, kepada hewan. Bagaimana dengan kepada manusia.

Bila kau ingin kasihan kepada orang di Palestina maka engkau tidak perlu menjadi seorang muslim, cukuplah menjadi seorang manusia. Bila ada manusia tidak peduli kepada keadaan yang amat sangat mengerikan di Palestina maka sesungguhnya dia bukan manusia. Dia hanyalah manusia tapi berhati binatang yang tidak ada peduli sama sekali. Mengapa seekor gajah yang besar tidak menginjak anaknya? Belum ada gajah besar menginjak anaknya hingga mati. Mengapa seekor srigala yang buas tidak menerkam anaknya padahal dia pemakan hewan. Giginya yang tajam tidak akan digunakan untuk memakan (anaknya) karena ada rasa kasih sayang dalam hatinya.
Allah punya seratus rahmat, dia turunkan 99 rahmat dan yang satu itu dia tahan? ternyata tidak demikian, apakah satu dia tahan? yang dia turunkan hanya satu, yang 99 dia tahan. Yang 99 itu nanti akan dia berika di surga. Belum pernah dipandang mata, belum pernah didengan telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Dia tahan 99 rahmad, dia turunkan satu rahmat. Yang satu itulah yang diperebutkan oleh singa, ular, srigala, semua binatang bahkan manusia. Andai ada manusia tidak ada rasa kasihsayang dihatinya, celaka. Dia tidak mendapatkan satu rahmat yang diturunkan Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah
Adakah rasa kasihsayang itu dalam hati kita? bila kita meneteskan air mata memandang berita saudara kita. Dari sejak kita kecil kita sudah memandang di televisi, kita lihat bagaimana penderitaan saudara kita di Palestina. Beritanya itu saja dari hari ke hari. Dari masa Yasser Arafat, sampai dia meninggal dunia, sampai hari ini kita melihat, menyaksikan dengan mata kita. Bahkan ketika informasi ini semakin maju kita sudah memandang, pagi, petang, siang dan malam melalui internet, melalui media kita menyaksikannya. Sesungguhnya hari ini adalah hari masih diperlihatkannya iman. Apakah kita beriman. Kalau kita beriman maka kita peduli kepada mereka. Siapa yang punya uang, siapa yang punya harta, dia infaqkan ke jalan Allah.

Maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab Allah? Apa perniagaan itu? Beriman kepada Allah. Apakah cukup hanya itu? tidak. Berjihad di jalan Allah dengan harta kamu, dengan nyawa kamu, dengan diri kamu. Jika itu dilakukan maka Insya Allah selamatlah kita daripada azab Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Tapi bila kita hanya terlena memikirkan bagaimana anak kita saja, memikirkan kehidupan kita saja, bagaimana negeri kita saja tanpa mau mempedulikan anak-anak kaum muslimin yang jadi yatim disana. Bagaimana saat musim sejuk (salju) tiba, mereka menggigil kedinginan. Kita lupa di Palestina turun salju. Pada saat itu mereka kedinginan. Berapa anak-anak yang mati syahid. Mereka sedih? tidak. Mereka mati sebagai syahid. Jangan katakan mereka mati. Mereka tak pernah mati. Mereka hidup, tapi kamu tak dapat merasakan kehidupan mereka. Ada tiga yang mereka dapatkan. yang pertama : mereka tidak merasakan sakratul maut. Mereka tidak merasakan bagaimana tebasan pedang ditempat yang sama beratus kali. Sakitnya sakratul maut seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup. Sakitnya sakratul maut seperti mata kail pancing yang ditarik dari kulit yang basah. Kita pagi siang petang malam berdoa kepada Allah

اللهم هون علينا سكرات الموت

"Allahumma hawwin 'alainaa sakaraatil maut".
"Ya Allah, permudahkan kepada kami Sakaratul Maut."

Mereka (yang syahid) tiak merasakan itu. Kita melelehkan air mata bukan karena kasihan melihat mereka tapi karena kita kasihan melihat diri kita sendiri tidak selamat dari azab Allah. Bukan karena kita berzina, bukan karena kita minum khamar, bukan karena kita makan riba tapi karena kita tidak peduli pada nasib saudara kita di Palestina. Oleh sebab itu, yang punya harta, dia kirim menolong agama Allah. Dia kirim nyawanya, dia tolong agama Allah. Tapi andai tidak, jangan lupa doa. Doa adalah senjata orang beriman. Doa adalah otak, intinya ibadah. Maka tetap kita berdoa. Mendoakan orangtua penting, mendoakan anak agar menjadi anak shileh penting, mendoakan pasangan hidup penting. Doa-doa itu penting, tidak salah. Tapi ada doa yang tidak kalah penting, bagaimana mendoakan saudara-saudara ktia di Palestina. Kita panjatkan doa kepada Allah. Kata Allah "Berdoalah kepadaku maka aku akan perkenankan doa kamu".

Tapi ada setengah (sebagian) orang berkata "mana pertolongan Allah?" Al Aziz maha kuasa, Al Jabbar maha perkasa. Mana Allah? Dia menantang Allah. Mengapa Allah tidak menurunkan “thoiron ababil”, "Tarmihim Bi'hijaratim Ming Sijjil" ? Mengapa Allah tidak mendatangkan tentara yang menghanguskan seperti yang pernah dia lakukan kepada Abrahah?
Jangan lupa. Kaum muslimin Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah. Pada saat itu (penyerangan Ka'bah) hanya ada seorang Abdul Muthalib yang membawa pincu kunci Ka'bah. Dia tidak sanggup menghadapi tentara Abrahah. Lalu Ia katakan kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Dia serahkan kunci itu ke Baitullah lalu dia katakan "Sesungguhnya Baitullah ini ada Rob yang pernah menciptakannya, yang memeliharanya, yang menjaganya, yang memberinya rezki. Ya Allah aku kembalikan kunci Baitullah, aku tak sanggup untuk menjaganya". Dia hanya sendirian tiada yang lain yang beriman. Hanya dia saja yang takut kepada Allah, lalu dia serahkan kunci itu kepada Allah maka Allah menurunkan bala tentaranya.

Tapi hari ini, berapa juta manusia beriman bahkan milyar jumlahnya maka Allah tidak perlu menurunkan itu karena masih ada orang-orang beriman. Itulah cara kita untuk masuk dalam rahmat Allah. Sebenarnya Allah telah membuka pintu peluang bagi kita untuk berjihad di jalannya. Maka kita didik anak-anak kita dengan pendidikan yang Islami, kita ajarkan bahwa ini adalah tanggungjawab kita bersama. Hari ini banyak orangtua yang takut anaknya miskin, takut susah, takut tidak makan, takut melarat. Tapi tak banyak yang khawatir, takut dan cemas anaknya tak peduli kepada Palestina. Mereka menganggap ini hanyalah masalah kebangsaan saja, mereka bangsa Arab, mereka bangsa Palestina sedangkan kita bangsa melayu, kita tidak peduli dengan mereka. Ini bukan masalah kebangsaan, ini bukan masalah kerajaan, ini bukan masalah kenegaraan, ini adalah masalah keimanan. Iman kita sedang ditanya, iman kita sedang ditantang. Kita akan ditanya dihadapan Allah. Pendangaran, penglihatan mata, hati dan pikiran. "Pernahkah telingmu kau pakai untuk mendengar masalah saudaramau Palestina, pernahkah matamu kau pandangkan, melelehkan airmatamu mengingat saudaramu di Palestina? pernahkah hatimu merenung sejenak, pernahkah akal pikiranmu tentang saudaramu di Palestina? "Apakah kau tidak berfikir? tidak berakal?".
Jangan kamu buang air dilubang tanah. Mengapa tidak boleh buang air dilubang tanah? mungkin didalam lubang tanah itu ada semut, mereka tersakiti. Dalam kitab Hasiyah An-Nasa'i Al-Sindi dikatakan mungkin dalam lubang tanah itu ada jin (tempat tinggalnya jin). Islam mengajarkan mempedulikan jin. Sampai jin pun dipedulikan, tapi mengapa ada orang tidak mempedulikan manusia? yang darahnya dilihat menetes. Anaknya meninggal dunia dia masih sempat tertawa, padahal itu adalah saudaramu seiman seakidah sama-sama mengucapkan Lailahailallah Muhammadarasulullah.
Tiada beda antara arab dan bukan arab, tida beda antara yang berkulit putih dan berkulit hitam. Semua kamu dari Adam dan Adam dari tanah. Dari tanah akan kembali menjadi tanah. Kita semua akan diminta tanggungjawab dihadapan Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Manakala berpindah kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullalh, selama 17-18 bulan sahabat yang beribadah kepada Allah lalu kemudian mereka mati meninggal dunia. Sahabat lalu datang kepada Rasulullah "Ya Rasulullah, bagaimana dengan saudara-saudara kami yang dulu shalat menghadap ke Baitul Maqdis apakah shalat mereka diterima? apakah ibadah mereka diterima?". Pandanglah bagaimana sahabat nabi dulu mereka khawatir shalat saudaranya tidak diterima. Nabi diam sampai turun ayat "Tidaklah Allah menyia-nyiakan iman" (Al-Baqarah [2]: 143). Maksud iman disini adalah shalat mereka. Jangan kamu khawatir wahai orang beriman, shalat saudaramu yang dulu tetap diterima Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Walaupun sudah meninggal dunia, mereka tetap peduli kepada saudaranya.
Hari ini apa yang terjadi, didepan bola matanya bersimbah air mata, bersimbah darah tiada kepedulian sedikitpun. Sesungguhnya yang membedakan kita dengan mereka yang dimasa lalu bukanlah karena mereka dekat dengan Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam, bukan karena mereka hidup di zaman salafusshaleh. Shalat mereka sama dengan kita, puasa mereka sama dengan kita, zakat mereka sama dengan kita. Yang membedakan mereka dengan kita adalah kepedulian mereka terhadap saudaranya.
Masalah Palestina bukan hanya masalah mereka, tetapi juga masalah kita. Jika kita tidak peduli dengan Palestina maka hilangkanlah satu surat dalam Al Qur'an, Surat Al Isra'.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Kita masih memperingati Isra' dan Mi'raj 27 Rajab. Sepakat kaum muslimin di seluruh dunia, peringatan Isra' dan Mi'raj bukan setakat shalat, bukan sebatas peringatan perjalanan panjang yang penuh dengan mukjizat tapi sebenarnya kita sedang diingatkan bagaimana kepedulian kita kepada saudara kita di Palestina. Ajarkan kepada anak-anak kita, buatkan gambar yang besar sebagai ikon, sebagai simbol mengingatkan kita kepada masalah Palestina.

Membawa anak-anak ke danau, ke bukit, ke tempat yang indah tidaklah salah. Tapi mengingatkan mereka tentang masalah Palestina, bila mereka tidak ingat akan menjadi masalah. Jangan pernah bangga dengan mesjid yang besar, jangan pernah bangga dengan jumlah yang banyak. Karena dulu saudara kita yang ada di Andalusia juga pernah bangga dengan jumlah yang banyak. Berapa tahun lamanya mereka berkuasa di Andalusia? 700 tahun lamanya mereka berkuasa. Tujuh abad mereka berkuasa, tapi apa yang terjadi saat ini, mesjid yang dulu megah, mesjid yang dulu mengumandangkan azan hari ini sunyi membisu, tiada terdengar suara Allahuakbar. Kenapa demikian? Karena mereka tidak mewariskan cinta Islam kepada anak-anak mereka.
Khutbah ini tidak mengajak kita menjadi pengganas, ekstrim. Khutbah ini hanya ingin mengajak kita peduli kepada saudara. Dan kita ingatkananak cucu kita jangan sampai kita wariskan kepada mereka, tanah yang luas akan tinggal, rumah yang besar akan menjadi tempat tumbuh ilalang. Tapi yang kita tinggalkan kepada mereka adalah "maa ta'buduna min ba'di?". Itu yang dipesankan Ya'kub mereka ingatkan kepada anak cucu mereka "Setelah aku mati nanti kalian akan menyembah apa?" Setelah aku mati nanti kalian akan bersaudara dengan siapa?
Setelah aku mati nanti kalian tetap ingat Palestina. Itu yang kita ingatkan pada mereka. Tapi hari ini apa yang terjadi? Banyak orang bertanya "setelah aku mati nanti kamu akan makan apa?", setelah aku mati nanti kamu akan naik kereta apa? Setelah aku mati nanti kalian akan membina rumah sebesar apa?, setelah aku mati nanti kamu akan menjadi apa? Ini semua penting. Carilah persiapan untuk akhirat tapi jangan lupakan dunia. Maka kita diajarkan berdoa Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar" .

Selepas shalat ini kita akan keluar dari mesjid kita tetap berdoa kepada Allah "Bukakan untukku pintu rezkimu Ya Allah" Jika shalat sudah dilaksanakan, bertebaranlah di atas bumi Allah. Berjalanlah diatas bumi Allah, bekerjalah, carilah nafkah. Yang ada kebunnya tanam tanam-tanaman yang subur sehingga kau menjadi kaya raya dengan itu. Yang ada bagian belanja perniagaannya maka urus dengan pengurusan yang baik maka kau akan kaya raya. Berniaga, yang jujur, yang amanah maka akan dibangkitkan setelah mati bersama para nabi, bersama orang shaleh, bersama orang mati syahid.

Jangan lupa, dunia hanya sementara, akhirat akan kekal abadi selamanya. Pandanglah bahtera yang lalu lalang di samudera yang luas, ambil salah satu dari ujung jarimu, celupkan kedalam samudera. Setelah itu tarik keatas. Pandang, apa yang kau lihat diujung jarimu? Ada setetes air, itulah dunia. Setetes air yang ada diujung jarimu itulah dunia. Sedangkan samudera yang luas itulah akhirat. Maka bila kau dapat jangan sombong, jangan angkuh karena yang kau dapat itu hanyalah setetes. Dan jika tidak dapat jangan bersedih hati, jangan stress, jangan gila, jangan bersedih hati berkepanjangan karena yang tidak dapat itupun hanya setetes. Maka manusia akan tersenyum. Mengapa kau tersenyum? Ini adalah karunia Allah. Dia ingin menguji aku bersyukur atau aku kufur kepada Allah. "Kami uji mereka dengan kebaikan-kebaikan". Harta adalah ujian, anak dan istri adalah ujian. Bila kau berzakat maka kau bersyukur, bila kau berinfaq kau bersyukur tapi bila kau bakhil, bila kikir maka sesungguhnya tiada lain balasan yang diberikan Allah. Malaikat sudah mendoakan "orang yang pelit, orang yang bakhil, beri dia kebinasaan Ya Allah" Adapun orang-orang yang berlapang dada maka dia berfikir untuk akhirat. Apa yang dilakukan oleh orang yang berakal? dia berfikir apa yang akan aku bawa sesudah aku mati menghadap Allah.

Betapa malunya kita, orang yang berdoa pagi siang petang dan malam "Masukkan aku ke dalam surgamu Ya Allah, bersama orang yang baik-baik Ya Allah" Tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Betapa malunya kita ketika kita melihat orang-orang Palestina masuk kedalam surga tanpa hisab sedangkan kita dengan hisab perhitungan yang panjang. Pernah kau peduli kepada mereka? Tidak. Pernah kau doakan mereka? Tidak. Pernah kau teteskan air mata karena sedih melihat mereka? Tidak. Betapa kau tak ada makna dihadapan Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Teteskan air mata, pandang mereka baik-baik. Buka youtube, lihat penderitaan mereka tunjukkan ke anak-anak, pandangkan kepada mereka "Hai anak-anakku ini adalah anak-anak yatim. Hai istriku inilah orang-orang yang kehilangan suami, hai keluargaku, inilah orang-orang yang kehilangan rumah, terbakar, hancur meletup disebabkan yahudi Israel yang menjajah mereka. Hari ini kita masih boleh (bisa) makan kenyang, hari ini kita masih boleh tertawa, cuti pergi ke tempat selesa (wisata) yang membuat kita tenang. Tapi sampai masanya, kematian itu akan datang juga. Ingat, sesungguhnya manusia itu sedang tidur. Yang kaya sesungguhnya hari ini sedang tidur terlelap, yang berkuasa sesungguhnya hari ini sedang tidur sampai masanya. Sesungguhnya manusia itu sedang tidur, ketika ia mati barulah ia sadar. Yang di Palestinapun sebenarnya sedang tertidur sampai nanti masanya mereka terbangun, barulah mereka sampai pada kehidupan yang sesungguhnya. Adakalanya kita tertidur melelehkan air mata karena bermimpi sedih. Adakalanya orang tidur dalam keadaan tersenyum karena sedang mimpi dalam keindahan. Sesungguhnya keindahan yang ada pada kita hari ini adalah mimpi belaka sampai masanya kita akan membuka mata barulah kita sadar-sesadar-sadarnya. Sesungguhnya kehidupan ini adalah fana, yang kekal abadi hanyalah kehidupan akhirat yang lebih baik daripada dunia.

BarakaLlahu li wa lakum fil qur’anil karim wa nafa-‘ani wa iyyakum bimaa fihi minal aayati wa dzikril hakim.
Aquulu qowli haadzaa wastaghfirullaha liwalakum walisaa iril muslimina min kulli dzambi
Fastaghfiruhu innahu huwal ghofururrohim.

Khutbah ke-2


admin
Jumlah Catatan: 0
No records