Teks Khutbah Jum’at Pertama Ramadhan 2018 Ustadz Abdul Somad di Masjid Raya An-Nur

Muhar Abdullah Puteh 19/May/2018 Teks khutbah jumat ramadhan An Nur Pekan Baru View : 4189 |
Hadirin, jamaah jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Hari ini bertemu dua sayid. Sayidul ayyam, induk dari segala hari, hari jumat. Sayyidus syuhur induk dari segala bulan. Ramadhan. Sayyidul ambiya' wal mursalin, induk dari segala nabi dan rasul adalah Sayyidina wa Maulana Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.

Berapa banyak sahabat, tetangga, handai tolan ingin sampai ke hari yang baik dan mulia ini. Tapi mereka tidak sampai. Dua bulan yang lalu mereka berdoa
Allahuma bariklana fii rojab wa sya'ban. Ya Allah, berikan kami berkah di bulan rajab dan sya'ban. Wa balighna ramadhan. Sampaikan kami kebulan ramadahan. Rajab dia dapat, sya'ban dia bertemu. Ramadhan dia tidak berjumpa. Tak sayangkah Allah kepada mereka? "Aku menurut prasangka hambaku kepadaKu". Allah sangat sayang kepada mereka. Saking sayangnya Allah kepada mereka, dipercepatNya pertemuannya dengan mereka. Lalu bagaimana dengan kita? Allah juga sayang dengan kita. Dosa kita terlalu banyak untuk berjumpa dengan Allah. "Umurmu aku panjangkan sampai jumpa dengan ramadhan, supaya bersih dari segala khilaf dan dosa". Semuanya baik.
Orang beriman itu mengagumkan. Ajaban, ajib. Kalau datang yang menyenangkan hatinya, umur panjang, sehat, rezeki melimpah ruah. Ia bersyukur karena hal itu baik bagi dia. Kalau yang datang itu kesempitan, kesusahan, kesakitan, sabar. Itupun baik bagi dia.

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.”

La in syakartum la azidannakum. Kalau kau bersyukur maka ditambah. Orang yang sabar diberi balasan yang tidak bisa dihitung kecuali oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Orang yang beriman mendekatkan diri kepada Allah. Terombang ambing dipukul ombak, dihempas gelombang. Trbang dengan dua sayap. Sayap sabar dan sayap syukur Sayap ridho, sayap qonaah. Hari ini kita bersyukur kepada Allah. Diantara rukun khutbah, khatib mengucapkan Alhamdulillah. Bersyukur dengan ucapan, menggerakkan lidah, Alhamdulillah. Bersyukur dengan perbuatan,

Ya ayyumal ladziina aamanu idza nuudiya lishshalati miyyaumil jumu’ati fas’au ila dzikrillahi wadzarul bii’, dzaalikum khairul lakum in kuntum ta’lamun.
Hai orang – orang yang beriman, apabila di seru untuk menunaikan shalat pada hari jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual – beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Jumu’ah: 9).

Siapapun tinggalkan. Pejabat dengan kekuasaannya meninggalkan kantor saat ini. Dosen dengan mahasiswanya meninggalkan ruang kelas. Adapun orang-orang yang tidak dapat meninggalkan maka diberikan Allah keringanan. Berkumanang suara azan, masuk dari celah-celah jendela, ditembus dari atas menara, masuk ke telinga mereka yang terbaring di seberang sana di rumah sakit. Meleleh air mata "andai dapat melaksanakan shalat jumat". Tapi masa lalu tak dapat diulang kembali. Adapula saudara-saudara kita didalam masa tahanan, didalam masa kesulitan, berdesak-desakan mereka didalam lembaga pemasyarakatan dan penjara. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mesti mengeluarkan beberapa lembar uang untuk dapat pergi. Yang selama ini bebas beribadah, tapi kini tidak mampu untuk mengayunkan tangan melangkahkan kaki. Hari ini barulah sadar, begitulah sulitnya. Maka manusia baru tau syukur nikmat setelah nikmat itu dicabut oleh Allah Subhanahu Wa Taala.

Ketika engkau bebas melangkah untuk ke mesjid, ketika engkau bebas melangkahkan kaki tanganmu. Sampai masanya ketika kebabasan itu ditarik Allah Subhanahu Wa Taala. Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah. Yang masih saja melakukan dosa, tobatlah dengan tobatan nasuha. Tobat sebenar-benar tobat.
Siapa yang tidak melaksanakan perbuatan baik dibulan ini (ramadhan), mustahil dia akan mendapat kebaikan dibulan lain. Andai di bulan ini dia tidak zikir, bagaimana dengan bulan lain di luar Ramadhan. Andai di bulan ini dia tidak shalat, bagaimana dengan di bulan yang lain. Andai di bulan ini dia tidak bersedekah, apalagi di bulan yang lain, "Siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka kafirlah dia secara nyata". Senyata-nyatanya dia ingkar kepada Allah Subhanahu Wa Taala.
Hari ini hati masih lembut datang bersimpuh sujud. Orang yang paling dekat dengan Allah yaitu ketika dia menempelkan keningnya kelantai, bersimpuh. Aku adalah orang yang banyak berbuat dosa. Keluar dari mulunya Astaghfirullahalazim. Siapa yang memperbanyak istighfar, setiap kesusahannya akan diberikan Allah kelapangan, setiap kesempitannya akan diberikan Allah jalan keluar, Allah beri rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Apa yang membuat kita masih hidup hari ini? Karena Allah masih sayang.
Bismillahirrohmanirrohim. Tidak diawali ayat itu dengan Bismillahil azizil jabbar, tidak diawali ayat itu dengan bismillahi azizil qhahar tapi diawali dengan Bismillahirrohmanirrohim. Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dengan kuasanya, qudrat iradatnya. Walaupun dosa itu sudah lama mati. Cukup Dia perintahkan satu malaikat memekikkan suara, memecahkan gendang telinga, menghancurleburkan dunia, tapi Dia masih sayang. Allah tidak akan menurunkan azab selama Muhammad ada bersama mereka. Tetapi Ia tidak ada bersama kita, Ia sudah lama pergi, kenapa belum turun juga, kenapa azab tidak datang?
Allah tidak menurunkan azab karena mulut mereka masih mengucapkan Astaghfirullahaladzim.

Hidup kita menumpang tuah. Kita sangka kita yang menyebabkan azab ini tidak turun. Ada orang-orang tua, suci hati mereka. Diwaktu sahur mereka beristighfar. Itulah yang sesungguhnya menunda azab itu tiba karena kita yang banyak bergelimang dosa. Ada anak-anak kecil yang belum berdosa. Ada ibu-ibu tua renta yang anaknya shaleh dan shaleha. Ada orang-orang penghafal Al Qur'an. Merekalah yang menahan azab itu, bukan karena kita. Kita terlalu banyak memancing kemarahan, kemurkaan Allah. Oleh sebab itu diantara nikmat terbesar latus-alunna yauma-idzin `anin na'iim. Kelak kau semua akan di tanya anin na'im, nikmat yang telah diberikan dulu kemana kau pakai. Siapa yang dapat menghitung hembusan nafas, siapa yang dapat menghitung detak jantung, siapa yang dapat menghitung berapa tetes darah yang telah dicuci buah pinggang (ginjal). Siapa yang dapat menghitung semua nikmat. Kalau kau hitung nikmat Allah, kau tak dapat menghitungnya. Tapi kelak semua akan ditanya.

Inna sam'a (pendengaran) wal basara (penglihatan) wal-fu'aada (hati dan fikiran) kul olaaika kaana 'anhu mas uulah (semua akan dioal, ditanya) dihadapan Allah. Berapa pertanyaan Allah? Sebanyak nikmat yang kau terima. 'La tazulu qadama 'abdin yaumal qiamati. Kaki anak Adam akan tetap tegak berdiri di hari kiamat. hatta yusalu. Sampai dia disoal. Apa soalannya? Soalan tidak dapat kita ketahui kecuali dari dia yang dipilih oleh Allah. Wama yantiqu anil hawa. Dia bicara bukan mengikuti hawa nafsunya. in huwa illa wahyun yuha. Dari Allah Subhana Wa Taala.

Yang ditanya Allah pertama kali "an umrihi fiima afnahu". Umur yang kuberikan kepadamu kemana kau pakai.
Azan magrib nanti berkumandang, 48 jam sudah kita berada di bulan agung mulia ini. Kemana saja pergi 48 jam itu kau pakai? Bila kita dapat menjawab, aku pakai dengan shalat tahajud, dhuha, witir, tarawih, shalat sunat isra', qobliyah, ba'diyah maka alhamdulillah. 48 jam sudah aku berikan kepada Engkau. Bila kita dapat menjawab aku sudah membaca Al Qur'an, merenungkan isi Al Qur'an, muhasabah, instropeksi diri maka alhamdulillah. 48 jam yang diberikan kelak semua akan ditanya. sekecil apapun. Wamay ya'mal mif qoladoratin saroyaroh. sebesar biji sawi, sebesar tapak kai semut yang hitam, diatas batu yang hitam, ditengah malam yang kelam, ditengah samudera yang luas tetap akan dituntut di hadapan Allah Subhanahu Wa Taala. Syukur nikmat Allah, hari ini hati masih lembut menjawab panggilan azan, berkumpul di tempat terbaik (mesjid), bersama orang-orang baik, mendengarkan yang paling baik firman Allah, sabda Rasulullah. Tapi disana, masih ada saudara yang marah, yang bergelimang dosa, tak tau entah kapan akan tiba masanya. Sampai akhirnya malaikat maut tiba mencabut nyawanya dengan satu kali sentakan seperti tebasan pedang ditempat yang sama beratus kali. Seperti mata kail yang ditarik dari kulit yang basah, seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup. Bergegar, menggelegar, tapi (hidup) tak dapat diulang kembali (karena) tak pernah ia berkata "Allahumma hawwin 'alaina fii sakaratil maut", ringankan aku menghadapi sakaratul maut. Sampai pada puncaknya malaikat mencabut nyawa itu keluar dari jasad, mata melotot, meregang nyawa dalam keadaan suul khotimah. Mati.

Hidup ini singkat, potong masa kanak-kanak, tidur, bekerja, beraktifitas. Inilah masa yang singkat, pendek. Tapi resiko yang akan diterima, berapa lama kau akan berada di kerak neraka jahanam, kholidinafiha abada (kekal selamanya).

Siapa yang banyak menghabiskan waktu? anak. Siapa yang banyak menghabiskan waktu? pasangan hidup. Siapa yang banyak menghabiskan waktu? kawan, sahabat bersenda gurau, tertawa terbahak-bahak. Tertawalah, hidup sesuka hatimu tapi ingatlah kau akan menjadi mayat, sampai kau akan menghadap Allah Subhana Wa Taala. Apa yang akan kau bawa? kalau sempat kau masukkan beberapa lembar uang dari hartamu yang kau cari pergi pagi pulang petang, peras keringat, banting tulang. Kalau sempat kau berikan kepada anak yatim saat buka puasa. Kalau sempat kau berikan kepada panti jompo selembar kain (pada orang tua) yang anaknya sudah meninggal dunia, hidup sebatangkara, jauh pada saudara. Sempat kau berikan dia pakaian. Itulah yang akan menolong dihadapan Allah. Sempat kau belikan nasi kotak, nasi bungkus, kau antar kepada mereka yang ayahnya telah dicabut Allah nyawanya. Itulah yang akan menolong dihadapan Allah. Kalau sempat kau usap, sapu kepalanya, meleleh airmatanya. Dari air mata yang meleleh itulah mengundang turun rahmat Allah Subhanahu Wa Taala.

Hidup ini singkat saudaraku, tapi resiko yang akan kau terima adalah penyesalan panjang. Semua manusia ini dalam keadaan tidur, semua dalam keadaan lelap. Dan saat mereka bangun. Kapan? saat nyawa keluar dari badan barulah mereka terbangun dari tidur panjang. Terbangun dari lelap, terbangun dari mengigau. "oh ternyata aku kaya tetapi dalam mimpi saja". Ternyata aku punya kuasa tetapi hanya igauan saja. Lalu apa yang kau bawa? kalau pernah kau langkahkan kaki ke rumah Allah, shalat tarawih berjamaah, shalat witir bersama sahabat handai tolan sanak keluarga. Jika sempat kau buka satu dua lembar surat. Kalau sempat kau titipkan harta maka itulah yang datang menolong. Yang kau makan (akan) busuk, yang kau pakai lapuk. Yang kau sedekahkan, itulah yang kau bwa untuk hari esok menunggu di hadapan Allah.

Yang mengiringi mayat, ramai. Karangan bunga sejauh mata memandang. Handai tolan, kerabat, sahabat datang. Meneteskan air mata. Tetapi yang mau masuk kedalam wayabqo wahidun yang tinggal hanya satu saja. Harta pulang, keluarga pulang, semua yang kau cari tinggal. Akan dibagi-bagi oleh ahli waris, tercabik-cabik berkeping tak bersisa. Kalau pernah kau berikan sat dua tiga kran air, sumur bor, maka menetes seperti tetesan embun ditengah gurun pasir yang panas. Kalau pernah kau berikan atap, tirai, lantai, keramik, kubah mesjid maka akan menjadi lantai permadani melapangkan liang kuburmu, tapi selama ini kau sombong, angkuh. Jangankan untuk membantu, jangankan untuk menolong. Menatappun jijik dan hina. Hari ini kau berada dalam tempat kehinaan. Kau hanyalah setumpuk dagng busuk yang akan menjadi santapan cacing tanah.

Rumah itu engkau yang membuat, engkau yang membeli tanahnya, engkau yang mencari insinyurnya. Tapi sampai masanya, sejengkalpun tidak ada ruang dalam rumah itu yang bersedia menampung engkau. Akhirnya engkau dibawa ke mesjid. mereka berkata "bawa jenazah itu kedalam". Selama ini mereka menyambut tanganmu, selama ini mereka mencium, memelukmu. Sampai masanya tiba. Bawa jenazah itu ke dalam. Kita akan antar dia ke tempat yang kekal dan abadi. Tak akan kembali untuk selamanya. Saat itulah penyesalan tiba, saat itulah mata berbinar, apa kata mereka?
Laula akhortani ila ajalin korib. Ya Allah, kembalikan aku ke dunia, sebentar saja. Kalau Aku beri kau hidup, kau mau apa? tanya Allah. Mereka menjawab
wa asoddaqo. aku mau bersedekah.
Pendek saja jawaban mereka, aku mau bersedekah, dan aku ingin beramal shaleh.
Yang satu melihat azab, apa kata mereka?

“Rabbana absharna wa sami’na farji’na na’mal shalihan inna muqinuun” (Mereka berkata) Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal saleh. Sungguh kami adalah orang-orang yang yakin (Q.S. As Sajdah 12).

Tapi tidak lagi bermakna.
Hiduplah sesuka hatimu, Mau menumpuk harta? silahkan. Mau menumpuk kuasa? silahkan. Tapi ingat, kau akan jadi mayat. Jadi bangkai tak bernilai, tak berharga. Amalmu, hatimu, itulah yang akan menolong dihadapan Allah.

BarakaLlahu li wa lakum fil qur’anil karim wa nafa-‘ani wa iyyakum bimaa fihi minal aayati wa dzikril hakim.


Admin
Jumlah Catatan: 0
No records