Pentingnya Video pendek ceramah Ustad Abdul Somad

Juan Migers 07/Feb/2018 klaim Video dakwah View : 1897 |
Ramai diberitakan adanya klaim oleh PT Alfa.. yang bekerja sama dengan channel youtube Tafaqquh yang mengklaim semua video ceramah Ustad Abdul Somad. Ada banyak pendapat yang pro ataupun kontra. Yang jelas, tidak lagi seramai dulu video ceramah ustad.

Video diatas saya ambil kode embednya dari channel Juan Migers di youtube.

Saya pribadi sangat menyayangkan perihal klaim ini. Permasalahan terbesar (menurut saya) adalah pt alfa mengklaim semua video (SEMUA) yang ada gambar dan suara (GAMBAR DAN SUARA) ustad. Meskipun video itu TIDAK dibuat oleh channel Tafaqquh. Jadi klo ustad ceramah di mesjid depan rumahmu dan kamu shuting pakai HPmu dan kamu upload di channelmu MAKA akan diklaim juga. Jika channelmu ada iklannya maka uang iklan itu bukan milikmu tetapi milik pt.alfa.

Itulah yang saya tau dari membaca, menonton dan mengikuti grup WA  Persatuan Youtuber Dakwah.

Fakta

Jika semua video ustad hanya keluar dari satu sumber, dengan durasi yang panjang dan kualitas gambar dan suara yang sangat baik maka secara teknis untuk menonton video tersebut memerlukan waktu dan biaya beli paket. Juga perlu adanya jaringan internet yang kuat. Semua kondisi atau persyaratan untuk dapat menambah ilmu agama dari Ustad Abdul Somad (yang ceramahnya membuat ketagihan) hanya dapat dipenuhi oleh orang-orang tertentu pula, yakni orang mampu yang berada di area berjaringan internet kuat. Kita semua tau bahwa dalam seminggu paling tidak Ustad Abdul Somad berceramah enam kali dua session (ceramah dan tanyajawab).

Kemudian, jika kita melihat dari ceramah-ceramah ustad terdahulu, kita bisa ambil kesimpulan bahwa ustad sangat concern pada anak muda. Kalangan pelajar dan mahasiswa. Ini adalah kalangan yang 'gamang' dan cepat berubah serta kebutuhan keuangannya dipenuhi oleh orang tuanya. Ada sangat banyak godaan di internet untuk kalangan ini. Akses internet kepada pornografi, LGBT, Judi, kriminal dll adalah tantangan berat bagi orang tua untuk mengawasi anaknya dalam mengakses internet.

Opini

Video-video pendek ustad dalam beberapa waktu terakhir ini menurut saya telah mampu menjadi pesaing kuat bagi video dan konten jahat dalam memperebutkan pasar penonton pelajar, abg, mahasiswa (anak muda). Sebagai orang tua, kita perlu memperhatikan konten-konten berbahaya yang dapat diakses oleh anak-anak kita. Mengapa mereka bisa mengakses? Karena banyak! tersedia dimana-mana. Karena murah, dapat mereka capai dengan membeli paket sejangkauan uang jajannya. Jangan pikir kalau kita sediakan wifi di rumah anak-anak kita tidak akan terkena konten berbahaya. Mungkin mereka tidak melihat di rumah tetapi dari hpnya di luar rumah.
Blokiran dari pemerintah kalah dari akal anak-anak yang serba mau tau. Siapa/apa lagi yang dapat diandalkan? Menurut saya cara melawannya adalah dengan menyiapkan konten saingan yang sama menariknya, sama harganya, sama waktunya dan memberi efek yang positif. Disinilah peran dari video ustad yang mendidik dan menghibur mendapatkan perannya.

Kita harus mempelajari bagaimana strategi "musuh" dalam merusak otak anak kita. Mereka sediakan judul yang hebat, mereka sediakan video dari yang kualitas terendah sampai yang tertinggi, dari durasi 1 menit sampai jam-jam an. mereka buat semua varian! Mereka beriklan dimana-mana. Jika diblokir, mereka buat cara membuka blokirannya. Mereka gratiskan!

Apa strategi kita para orangtua untuk menjaga anaknya? pelajarilah strategi musuh, dalam hal ini adalah konten negatif. Sebagai contoh, pencarian akses ke pornografi terbesar datang dari Indonesia. Apakah mereka orang tua, tidak tentunya anak muda. Saya tidak merasa perlu mencari data tentang ini. Kenapa mereka cari? jika sudah dapat yang mereka cari dapatkah mereka akses? tentu saja dapat. Mudah, murah.

Jika mereka mencari video dengan kata kunci "ceramah lucu" mereka juga akan mendapatkan link ke konten tersebut. Permasalahannya adalah pertama mereka harus mau dulu mencari. ini adalah masalah ketertarikan dan hiburan atau kesenangan. Kedua, setelah mereka mencari dan dapat, dapatkah mereka akses? secara teknis bisa. secara paket kuota dibatasi oleh kantong.

Mengenai ketertarikan untuk mencari tadi, bisa karena minat, bisa juga karena penasaran. Kenapa penasaran? karena dilayarnya ada terus mucul. mau masuk fb, ada, google, youtube ada juga, di twitter ada ustad juga, IG apalagi. Maka mereka penasaran dan klik. Kalau tak pernah muncul dilayar mereka, bagaimana mereka bisa penasaran?

Dan sekarang peran itu berkurang/dikurangi kekuatannya.

Beberapa waktu lalu saya bergembira melihat kumpulan para abg, yang biasa bergitar-gitar itu tertawa dan bergembira mendengarkan ceramah ustad. Dari mana saya tau? itu jelas dari kata-kata yang mereka lontarkan, dari joke dan ledekan mereka kepada teman-teman gengnya. Seolah-olah memberitahu saya bahwa mereka sedang menonton ceramah.

Ini berbeda dengan kondisi sebelumnya. Para abg berkumpul tidak bersuara, tidak ribut, semua terdiam dipojokan menatap hpnya. Apa yang mereka lihat? saya tidak tau. Tidak ada petunjuk tentang apa yang mereka akses dari teknologi internet, hp dan entertainment.

Saya berusaha untuk tidak khawatir, tetapi tetap saja kekhawatiran itu ada. Berkurangnya content ceramah yang bisa diakses, biaya yang diperlukan, cover video dan judul yang tidak "eye Catching" membuat kalangan ini beralih tontonan.

Semoga saja tidak demikian.

Saya berharap agar klaim atas ceramah ustad (semua ustad) diperlonggar. Tetap berikan peluang bagi beredarnya semacam "Open License" dengan S&K berlaku. Akhir kata, apapun hasil akhir dari polemik ini, saya akan ikut apa kata keputusan Ustad Abdul Somad, semoga dakwah Islam tetap berkibar dan mendapat keberkahan dan ridho Allah. Amin.

Deddy

Admin jawabanUAS.com


admin
Jumlah Catatan: 0
No records