Penjelasan Ustadz Abdul Somad tentang pembagian warisan lengkap dengan contoh-contoh kasus

ISLAM BERSATU 20/Jun/2018 Hukum warisan Gono gini View : 3818 |
Hukum pembagian warisan lengkap dengan sistem fiqih atau gono gini dan pertengkaran yang sering terjadi dalam pembagian warisan.

Bismillahirrohmanirrohim, assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Sekarang kita masuk ke ayat Quran juga yang terkait dengan ayat-ayat warisan.
Surat An Nisa ayat 11.

يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْ أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِۚ فَإِنْ كُنَّ نِّسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَۚ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُۗ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهٗ وَلَدٌۚ فَإِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلَدٌ وَّوَرِثَهٗ أَبَوٰهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُۚ فَإِنْ كَانَ لَهٗ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَا أَوْ دَيْنٍۗ اٰبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًاۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا ١١
11. Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan dua orang anak perempuan.-* Dan jika anak itu semua perempuan yang berjumlah lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

Allah memberikan wasiat pesan kepada kamu tentang anak-anakmu. Anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Jika dia ada beberapa anak perempuan maka mereka berkongsi dalam 2/3.
Ada bapak, ibu, dan tidak ada anak laki-laki, ada anak perempuan tiga orang maka mereka berkongsi 2/3 harta. itu maksudnya jika tidak ada anak laki-laki. Kalau ada anak laki-laki maka anak laki-laki mendapat dua kali bagian anak perempuan.
Kalau dia anak tunggal (sendirian) maka memperoleh setengah. Bapak ibu punya anak perempuan tunggal, maka anak perempuan itu dapat setengah.
Bapak, ibu punya anak kemudian meninggal anaknya. Misal saya punya ayah punya ibu. Saya meninggal, saya punya anak maka ayah saya mendapat 1/6 dan ibu mendapat 1/6 dari harta warisan saya. Tapi kalau saya tidak ada anak, maka ibu dapat 1/3.
Saya kalau tidak punya anak maka harta warisan saya itu didapat saudara-saudara saya, ibu saya dapat 1/6 setelah dikeluarkan wasiat dan hutang.

Tidak boleh harta warisan dibagi sebelum dikeluarkan wasiat dan hutang.

Jika ada orang "kaya" yang meninggal tetapi hutangnya lebih banyak dari hartanya maka tidak ada harta warisannya. Ketika harta warisan dibagi sedangkan hutang belum dilunasi maka mucul masalah.
Tidak jarang kita kita temukan tulisan "Ruko ini jangan dibeli, sedang bermasalah". Salah satu sebabnya adalah itu (sengketa warisan). Jika meninggal, warisa langsung dibagi-bagi kemudian datang debt collector menagih hutang sementara ruko, tanah, kebun semua sudah dijual.

Pertama, keluarkan wasiat, kedua bayarkan hutang. jika masih ada tersisa dari harta orang yang meninggal maka baru dibagi-bagi harta warisan ke ahli waris.


An Nisa ayat 12

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهُنَّ وَلَدٌۚ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْنَ بِهَا أَوْ دَيْنٍۗ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّكُمْ وَلَدٌۚ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِّنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوْصُوْنَ بِهَا أَوْ دَيْنٍۗ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُّوْرَثُ كَلٰلَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَّلَهٗ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُۚ فَإِنْ كَانُوْا أَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِى الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصٰى بِهَا أَوْ دَيْنٍۙ غَيْرَ مُضَارٍّۚ وَصِيَّةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَلِيْمٌ ۗ١٢
12. Dan bagianmu (suami-suami) adalah dua seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istrimu) itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) hutangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar) hutang-hutangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau seorang saudara perempuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) hutangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris).-* Demikianlah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.

Dari ayat sebelumnya yakni ayat 11, yang jelas bagiannya adalah
anak perempuan tunggal mendapat 1/2.
Anak perempuan lebih dari 1 orang mendapat 2/3 (berkongsi).
Ibu dan ayah jika (yang meninggal) tidak punya anak mendapat 1/6 masing-masing. Jika ada anak maka ibu mendapat 1/3

Sekarang untuk suami.
Kalau istri meninggal maka suami mendapat 1/2 (setengah) jika tidak ada anak. Jika ada anak, maka suami mendapat 1/4 setelah dikeluarkan/dibayar wasiat dan hutang.
Jika suami meninggal maka istri mendapat 1/4 jika tidak ada anak. Jika ada anak istri mendapat 1/8 setelah dikeluarkan/dibayar wasiat dan hutang.
Jika yang meninggal, tidak ada ayah dan ibu, tidak ada anak, tetapi ada saudara seibu maka saudara mendapat 1/6. Jika saudaranya banyak maka mereka berkongsi dari 1/3 setelah dikeluarkan/dibayar wasiat dan hutang.

Itulah batasan-batasan ketetapan Allah. Jangan dilawan. Melawan ketetapan Allah, ingkar kepada Al Quran adalah kafir. Ayat tentang jilbab mau, ayat shalat oke, ayat puasa ikut, ayat zakat bayar, ayat warisan tidak bisa dipakai? Tidak bisa!. "Apakah kalian ikut sebagian Quran atau kalian tolak sebagian?" Hai orang beriman, masuklah kedalam Islah Kaffah, utuh, sempurna 100%, jangan parsial, jangan potong-potong.


An Nisa 176

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَآ إِن لَّمْ يَكُن لَّهَا وَلَدٌ فَإِن كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِن كَانُواْ إِخْوَةً رِّجَالاً وَنِسَاء فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ أَن تَضِلُّواْ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah) Katakanlah : "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) : jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Kalalah ialah : seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak.

Misal, saya meninggal, orang tua tidak ada dan anak tidak ada. Ada saudari perempuan saya satu orang maka sadari saya itu mendapat setengah. Jika memiliki saudara laki-laki (1 orang) maka semua milik saudara laki-laki. Jika saudari perempuan lebih dari 1 maka mereka berkongsi dalam 2/3. Jika ada saudara perempuan dan ada saudara laki-laki maka bagian saudara laki-laki adalah 2 kali bagian saudara perempuan.

Contoh kasus 1 warisan, ahli waris istri, anak, ada hutang, ada wasiat:

Bapak A n wafat, meninggalkan warisan 1 milyar (contoh untuk mudah menghitung). Meninggalkan seorang istri, seorang anak laki-laki, 1 orang anak perempuan. Ditemukan ada surat wasiat yang mewasiatkan untuk mesjid 100 juta. Tiga hari setelah dia meninggal datang pula orang menuntut hutang 400 juta. Bagaimana cara pembagian warisan?
Pertama, keluarkan wasiat 100 juta.
Bayarkan hutang (setelah dikonfirmasi) 400 juta.
Maka sisa harta 500 juta. Baru diberi warisan ke ahli waris.
Istri dapat 1/8 (karena ada anak) dari 500juta = 62.5 juta.
Sisa 437.5 juta diberikan ke anak-anak. Anak laki-laki mendapat 2 kali bagian anak perempuan.
437.5/3 = 145.33 juta
Anak perempuan mendapat 145.83 juta
Anak laki-laki mendapat 291.66 juta (2X145.83)

Ini adalah contoh kasus sederhana, tetapi memuat semua aspek, wasiat, hutang dan warisan.

Contoh kasus 2 warisan dengan ahli waris istri,  anak laki-laki dan perempuan.

Pak Z wafat. Meninggalkan seorang istri dan 4 orang anak. 2 laki-laki dan 2 perempuan. Harta yang ditinggalkan 1 milyar. Berapa bagian ahli waris? Dalam kasus ini tidak ada wasiat dan tidak ada hutang.
Istri mendapat 1/8 dari 1 milyar = 125 juta.
Sisa 875 juta dibagi ke 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.
875juta di bagi 6 = 145,8 juta
Anak perempuan mendapat masing-masing 145,8 juta
Anak laki-laki mendapat masing-masing 291,6 juta

Contoh kasus 3, ahli waris ayah, ibu, istri, anak.

Pak James wafat, meninggalkan seorang istri, ada ayah, ada ibu, 4 orang anak (2 laki-laki, 2 perempuan). Berapa bagian warisan masing-masing? Harta yang ditinggalkan 1 milyar.
Istri tetap dapat 1/8 (karena punya anak).= 125 juta
Kalau istrinya 2 apakah masing-masing dapat 1/8 atau 1/8 itu dibagi 2? 1/8 itu dibagi 2. Kalau istrinya 4 maka 1/8 itu dibagi 4.
Ayahnya dapat 1/6 = 166 juta
Ibu dapat 1/6 = 166 juta
Tersisa 541 juta untuk anak-anak.
541 juta dibagi 6 = 90,16
Anak perempuan mendapat masing-masing 90.16 juta
Anak laki-laki mendapat 180,3 juta

Contoh kasus 4 warisan dengan ahli waris istri dan anak perempuan tunggal

Bapak X wafat. Meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan.Harta warisan 1 milyar.
Berdasarkan ayat di atas, jika anak perempuan sendirian (tunggal) maka anak itu mendapat 1/2.
Istri dapat 1/8 = 125 juta.
Anak perempuan 1/2 = 500 juta
Masih tersisa 375 juta.
Kembali berdasar ayat, jika punya saudara maka sisa harta tersebut diberikan pada saudara bapak X dengan aturan yang laki-laki mendapat 2 kali bagian saudara perempuan.
Di sinilah muncul banyak masalah.
Banyak dari surat-surat berharga dipegang oleh istri. Karena istri mendapat 1/8 bagian padalah merasa bahwa saudara-saudara suaminya tidak pernah peduli.
Jangan makan hak orang, serahkan saja. Allah yang sudah menentukan peruntukan warisan ini.

Contoh kasus 5. Warisan dengan ahli waris istri tanpa anak kandung

Pak Q wafat. Meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkat. Harta 1 milyar. Berapakah bagian masing-masing?
Istri mendapat 1/4 (karena tidak ada anak kandung) = 250 juta
Anak angkat tidak mendapat harta warisan.
Sisanya 750 juta diberikan ke saudara kandung suami.
Bagaimana cara menyelamatkan (memberi) anak angkat?
Islam itu agama yang adil. Anak angkat tidak mendapat warisan tetapi dapat di beri hibah.
Hibah diberikan sebelum wafat. Bisa juga diberikan lewat wasiat. Apa beda wasiat dengan hibah?
Kalau hibah deberikan selagi masih hidup dan hak milik langsung berpindah. Kalau wasiat baru berlaku setelah meninggal dunia.


Bagaimana warisan dengan Gono-Gini?

Dalam Quran tidak ada gono-gini. Dari beberapa ayat yang kita baca tadi, tidak ada tentang gono-gini. Lalu gono-gini itu datangnya dari mana?
Gono-gini itu datangnya dari KHI, Kompilasi Hukum Islam Indonesia. Ini perbandingan menggunakan gono-gini atau tidak gono-gini. Perhatikan baik-baik.

Contoh kasus 5 pakai sistem gono-gini ahli waris istri tanpa anak

Pak Q wafat. Meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkat. Harta 1 milyar. Berapakah bagian masing-masing?
Menurut pembagian fiqih (bukan gono-gini), simpel istri dapat 1/4. Anak angkat tidak dapat. sisa 750 juta untuk saudara kandung.

Kalau pakai gono-gini:
Pertama. Pisahkan dulu antara harta bawaan sebelum menikah dengan harta yang didapat setelah menikah.
Kedua. Harta yang didapat setelah menikah. Harta pencarian bersama itu dibagi dua. Ini yang disebut dengan gono-gini.
Misal harta bapak Q sebelum menikah adalah 100 juta.
Harta yang dimiliki selama menikah 900 juta
Harta gono-gini yang 900 juta dibagi dua. Untuk istri 450 juta, untuk almarhum 450 juta.
Harta warisan adalah 450 juta bagian suami ditambah 100 juta harta sebelum menikah. 450+100=550 juta.
Bagian istri ditambah 1/4 dari 550 juta = 137,5 juta
Total harta untuk istri 450+137,5 = 587,5 juta.
Sisa 412,5 dibagi untuk saudara kandung.

Sering terjadi pertengkaran antara ahli waris mengenai sistem penetapan pembagian warisan ini. Antara fiqih dan gono-gini. Karena perbedaan jumlah harta yang dibagi sangat besar.
Bagaimana solusinya? Solusi pertama adalah musyawarah. Kalau tidak selesai di musyawarah maka dapat ke pengadilan agama. Biasanya tidak lama pengadilan agama akan memberi putusan berupa besaran bagian harta yang dibagikan.
Kalau istri menuntut ke pengadilan agama biasanya akan dikabulkan karena KHI ini di akui (berlaku) di Republik Indonesia.

Dalam beberapa kasus, yang saya ditanya oleh jemaah mengenai (warisan) ini. Sebaiknya pilih mana (fiqih atau gono gini) maka pakailah fiqih.
Tapi kalau dianggapnya hubungan sama suaminya itu seperti bisnis maka hak istri. Andai tidak begitupun, andai istri menuntut maka tetap dapat haknya. Harta gono-gini diberlakukan di negara ini yang sudah disahkan menurut undang-undang.

Perselisihan sering terjadi jika sebelum menikah tidak memiliki harta dan setelah menikah memiliki harta yang diwariskan. Perselisihan terjadi dalam memilih sistem pembagian warisan menggunakan fiqih atau gono-gini. Ini karena perbedaan jumlah pembagian yang besar.

Perselisihan warisan juga sering terjadi ketika tidak ada anak laki-laki. Dalam kasus tidak ada anak laki-laki maka saudara kandung mendapat harta warisan. Sering terjadi konflik. Jika ada anak laki-laki maka saudara kandung tidak mendapat warisan. Kemungkinan hanya konflik antara ibu dan anak-anak. Umumnya anak-anak tidak akan berkonflik dengan ibunya kecuali menantunya kurang ajar.

Contoh Kasus 6. Ahli waris anak yang sudah meninggal tetapi ada cucu

Kakek meninggal tahun 2015. Punya anak 3 orang. Anak pertama meninggal tahun 2010. Anak kedua dan ketiga masih hidup.
Menurut hukum fiqih, maka cucu dari anak pertama (yang meninggal) tidak mendapat warisan.
Seolah-olah Islam tidak perhatian sama cucu ini. Sudah tidak ada ayahnya dan tidak kebagian warisan sedikitpun. Padahal disitulah sebenarnya letak nilai akhlak. Bukan sekedar hukum saja. Kalaulah kedua pamannya ini mengerti "kamu tidak beriman sampai kau sayang kepada saudaramu sama seperti sayang kepada diri sendiri" tentu tak kan dibiarkan keponakannya itu mati susah kelaparan. Pasti dia bagi, dengan cara apa? Infaq, sedekah, hibah. Bisa dia tolong.

Tapi sekarang ini banyak orang tidak peduli. Maka datanglah KHI (Kompilasi Hukum Islam) Indonesia. Pasal 185.
1. Ahli waris yang meninggal lebih dulu daripada pewaris, maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya.
2. Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

Jadi dalam contoh kasus di atas, jika cucu menentut ke pengadilan agama maka dia bisa mendapatkan warisan sebesar yang seharusnya didapat ayahnya jika masih hidup.
Kita hidup di negara hukum. Hukum ini diadakan untuk membela mereka. Tetapi jangan katakan hukum ini untuk menyempurnakan Islam yang tidak sempurna. Nauzubillah. Islam itu sempurna. Kesempurnaan Islam dilihat dari tiga aspek. Hukum, Akhlak dan Akidah. Kalau ada paman yang tidak menolong keponakannya maka rusak akhlaknya dan rusak akidahnya. Karena orang yang tidak peduli pada anak kemenakannya maka tidak sempurna imannya.

Contoh kasus 7. warisan untuk ibu, istri dan anak, ada wasiat

Ustadz Somad mati. Meninggalkan seorang ibu, seorang istri dan seorang anak laki-laki. Berapa pembagian warisannya?
Harta warisan 1 milyar
Ibu mendapat 1/6 = 166.666.666
Istri mendapat 1/8 = 125.000.000
Sisanya untuk anak laki-laki = 708.333.333

Ustadz Somad mati membawa apa? Apa yang saya bawa?
Bagaimana cara supaya kita bisa membawa mati harta itu?

Dari Abu Huraira RA. Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Allah bersedekah...".
Selama ini kita taunya kita yang bersedekah. Ternyata Allah bersedekah.

"Sesungguhnya Allah bersedekah kepada kamu ketika kamu mati, sepertiga hartamu sebagai tambahan amal shaleh".

Jadi buatlah wasiat. Tidak boleh lebih dari 1/3 (33%). Wasiat lebih dari 1/3 adalah zalim, haram. Hadis tentang maksimal wasiat sepertiga ini jelas :
Ketika nabi menenguk seorang sahabat yang sedang sakit. "Wahai rasulullah, anakku tidak banyak, hanya seorang perempuan dan itupun mapan. Sedangkan ahli warisku yang lain tidak ada. Ambillah semua hartaku ini untuk Islam". Kata nabi "La", nabi tidak mau. Kalau kau tak mau ambil semua, ambillah setengah. Kata nabi "la", aku tidak mau ambil setengah. Kalau tak mau setengah, ambillah sepertiga. Kata nabi, "sepertiga itupun banyak" tetapi diambil nabi untuk perjuangan Islam.
Itulah dalil boleh meninggalkan wasiat 1/3.


admin
Jumlah Catatan: 1

yos

 27-Oct-2018  17:51:00 

Assalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuh pa'ustad
Ustad saya mau tanya . Saya punya nenek .nenek sya sudah meninggal nenek saya punya 5 anak terus anaknya yg ke 2 perempuan sudah meninggal .apakah anak perempuan nya yg ke 2 sudah meninggal tapi memiliki 5 anak 3laki 2 perempuan apakah anak dari anak perempuan yg sudah meninggal mndapatkan warisan ?
Terimakasih ,
Wassalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuh.