Mesjid atau ulama radikal? Sertifikasi ulama adalah solusi dari Ustadz Abdul Somad

Talkshow tvOne 18/Jul/2018 Sertifikasi Ustad Mesjid radikal TVone View : 584 |
Jadi pak ustad setuju ada sertifikasi ustad? O mengapa tidak? Saya siap.

Pertanyaan:
Kita lihat ada penelitian yang mengatakan banyak sekali di beberapa mesjid lembaga pemerintah yang kemudian menyebarkan paham-paham radikal. Dan ini sebuah penelitian yang dikeluarkan oleh lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat. Menilai penelitian ini menurut pa ustad positif atau negatif?

JawabanUAS:

Pertama kita rumuskan dulu supaya tidak ada perbedaan yang dimaksud dengan radikal itu apa? Supaya jangan sampai radikal kata saudara belum tentu radikal menurut saya. Apa sih radikal itu? Itu pokok pangkalnya. Maka dalam dunia ilmiah selalu kita mengkaji etimologisnya, terminologisnya. Apa radikal itu? Misalkan, menurut keyakinan saya bahwa ketika orang Islam tidak mau menikah dengan non muslim karena keyakinan. Maka menurut saya orang itu berpegang pada keyakinannya. Tapi ada sebagian orang mengatakan wah ini sudah radikal, dia tidak pluralis. Nah disitu aja kita (berbeda). Ada yang lebih ekstrim; pokoknya tetangga saya yang tidak seakidah dengan saya, yang lebih parah lagi yang tidak semazhab dengan saya, yang tidak satu qunut dengan saya. Nah ini harus dirumuskan jelas supaya kita tidak terjebak. Bahwa saya meyakini bertetangga, bersahabat, satu kantor dengan beda agama, beda keyakinan. Nabi Muhammad SAW saja bertetangga dengan Yahudi Bani Nadhir, Yahudi Bani Quraizhah, Yahudi Bani Qainuqa. Akan tetapi masalah hubungan pernikahan, masalah akidah, acara seremonial agama ini harus jelas. laa a'budu maa ta'buduuna, walaa antum 'aabiduuna maa a'budu, walaa anaa 'aabidun maa 'abadtum, walaa antum 'aabiduuna maa a'budu, lakum diinukum waliya diini.Ini sekedar gambaran betapa kata radikal itu harus dijelaskan dulu.

Kedua. Yang mengadakan survey, lembaga ini bagaimana kedudukannya sebagai apa. Jangan sampai; saya dari sejak lama, mulai kapolsek, kapolres, kapolda, dimana tempat ceramah, sahabat-sahabat dari kepolisian selalu (mengatakan) kita perangi hoax. Jangan sampai kita naudzubillah menjadi penebar hoax. Kita katakan ada radikalisme padahal apa? Mana buktinya, mana data dan faktanya. Harus jelas.

Pertanyaan TVOne: Ada mesjid lagi ceramah kemudian dipantau oleh pihak-pihak tertentu yang tidak memunculkan jatidirinya. Kalau Ustad Somad sendiri yang sudah sangat berpengalaman, dengan background pendidikan yang luar biasa melihat apa sih yang salah dalam berceramah atau memberikan syiar yang dinilai bukan Islam, ini bukan kedamaian, ini adalah permusuhan dan lain-lain. Bagaimana membedakan mesjid seperti itu atau komunitas seperti itu.

JawabanUAS:

Kita sudah dibiasakan dalam ajaran agama ini bahwa tidak ada yang ditutup-tutupi. Semuanya mesti clear. Tidak boleh menebar kebencian wa la yajrimannakum syana'anu qaumin 'ala alla ta'dilu, i'dilu, jangan sampai kebencian kepada sekelompok orang, satu person membuat kamu tidak bersikap adil. i'dilu, bersikap adillah. huwa aqraba littaqwa, adil itu mendekatkan kepada takwa.
In jaa-akum faasiqun binaba-in, kalau datang orang membawa berita, fatabayyanuu, klarifikasilah. (Al Hujurat 6)
Jangan berburuk sangka. Jangan mencari-cari kesalahan orang. Jangan sampai membicarakan aib orang, menebar isu.

Jadi apa yang sekarang diberitakan, jangan menebar hoax, jangan black campaign, jangan pembunuhan karakter. Itu bahasa yang berbeda dengan bahasa kekinian kita tetapi substansi maknanya sudah lama dibicarakan oleh agama kita. Oleh sebab itu, saya pribadi terbuka. Siapapun yang datang mau mendengar ceramah, dari kalangan intelijen, dari kalangan sahabat-sahabat (dari) partai, bahkan dari kalangan non muslim sekalipun yang mendengar streamin kita, silahkan. Berbagai macam data, fakta bisa kita berikan. Bahwa ada video yang dipotong, di cut, dimodifikasi, kita punya edisi lengkapnya. Saya menganggap itu semua adalah bunga-bunga dakwah. Kita tahu bahwa bad news bisa jadi good news. Berita buruk bisa jadi iklan gratis, tapisaya tidak menikmati itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa Islam mengajarkan lengkap. Bahkan ketika kita "dibusukkan" sekalipun, boleh jadi kamu sangka itu buruk, jelek tetapi dibalik itu ada hikmah yang luar biasa. Memandangnya dengan pandangan hikmah.

Tapi kita kasihan dengan umat. Mereka sudah sibuk dengan memikirkan pekerjaan, harga minyak, maslah isu-isu. Ditambah lagi. Mereka yang sebenarnya ingin ke mesjid kan untuk mencari ketenangan. Di kantor sudah sibuk dengan segala aktifitasnya, dirumah dengan berbagai problematikanya, di jalan dengan macetnya, satu-satunya tempat ketenangan tinggal di mesjid. Di mesjidpun dia tidak tenang, mau kemana lagi?

Pertanyaan TVOne: Terakhir pa ustad, betul memang harus terbuka dan transparan karena ilmu tidak harus ditutup-tutupi. Nah, kepada orang-orang yang mungkin (mohon maaf) ilmu belum seberapa sudah menjadi ustad misalnya. Ini kan tidak sedikit juga. Ilmu baru sampai di sosial media misalnya, kemudian sudah terkenal. Ini yang kadang-kadang juga merugikan ilmu sesungguhnya. Pesannya apa pada "new comersnya" .

JawabanUAS.

Saya mau berceramah ke Malaysia, dua bulan sebelum berangkat mereka sudah minta curiculum vitae, mereka minta ijazah S1 dan S2, mereka minta (sertifikat) pelatihan-pelatihan. Kemudian ditanya (tiga yang ditanya) akidah saya apa? Asyari, fiqihnya apa? Syafii, tasauf akhlaknya apa? Tarekatnya apa? Semua ditanyakan, di briefing. Kalau mau kita, buat seperti itu. Saya diundang ke Brunei Darussalam yang akan dihadiri oleh empat menteri, di mesjid anak Sultan Hasanal Bolkiah. Ustad akan dipantau. Silahkan. Saya tidak sakit hati, tidak marah. Saya tidak emosi lalu berkata memangnya saya ini sesat, saya pulang. Tidak. Silahkan. Mereka datang ke hotel. Ustad Abdul Somad, semestinya ini di briefing di kantor tetapi karena keterbatasan waktu dan kami paham biarlah kami kesini. Saya berasal dari negeri melayu Riau dan kami sejak masa kerajaan kami dulu Siak Sri Indrapura tahun 1723 , sudah sejak 300 tahun yang lalu sudah punya kerajaan dan kami punya akidah Asyari, fiqih kami Syafii dan tasauf kami adalah Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid Al Ghazali. Tidak keluar daripada itu. Saya ingin menceritakan bahwa antara kami dan kalian Brunei Darussalam sama. Dan sekarang saya tinggal di negara kesatuan Republik Indonesia, kami juga dinaungi oleh pancasila, Ketuhanan yang maha esa. Saya tidak pernah keluar daripada itu. Ceramah saya direkam, tanya jawab, saya jelaskan semuanya ada alasannya, rasional, fakta, data, itu yang kita sampaikan. Jadi kalau mau balance, semua ustad-ustad diadakan sertifikasi ustad.

Pertanyaan TVOne: Jadi pak ustad setuju ada sertifikasi ustad?

JawabanUAS

O mengapa tidak? Kalau kita mau adil, semua dari ormas kita, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Perti, Persis, Al Jami'atul Washliyah, Nahdatul Wathan, Wahdah Islamiyah duduk bersama karena berperang, bertikai itu ..
"jangan kalian berkelahi, kalian akan gagal, kalian kehilangan semangat. Umat ini sudah menunggu. Lihatlah tabligh akbar ramai. Kasihan mereka, mereka ingin kedamaian. Mereka ingin beribadah kepada Allah. Berapa lama mereka bergelimang dengan dosa, maksiat, sekarang masanya mereka ingin mendekatkan diri lalu mereka kecewa.

Saya khawatir kalau dalam agamapun mereka menemukan kesulitan, nanti mereka bisa menjadi atheis. Tidak bertuhan, efek dari sakit hati sebagaimana pada abad pertengahan dulu, orang-orang yang sakit hati terhadap tokoh agama akhirnya mereka (beranggapan) ah agama ini omong kosong. Naudzubillah.

Kalau memang mau sertifikasi ustad, buatkan!

Ini ustad sertifikasi A, Boleh berceramah, boleh mengeluarkan tanya jawab.
Ini ustad sertifikasi B, Hanya boleh berceramah saja, tidak boleh tanya jawab.
Ini ustad sertifikasi C, ceramah tidak boleh, kultum (kuliah tujuh menit) saja, tidak boleh cerita yang lain.

Saya siap sampai hari ini. Buatlah tim, kita akan duduk bersama. Insya Allah, bukan angkuh bukan sombong, saya menulis tesis 300 halaman, didudukkan dihadapan tiga orang guru besar di institut terkemuka Darus Hadist Al Hasaniah dan saya lulus. Saya selesaikan S2 saya setahun sepuluh bulan kelar. Dudukkan profesor-profesor, saya akan duduk disitu. Kalau saya memang tidak layak (sebagai contoh kasus saja), maka saya akan siap. "Ustad Somad, besok tidak lagi tabligh akbar, kultum saja" Oke, kita kultum. Selesai tujuh menit teet, out, kalau tidak ditangkap.

TVOne: Terima kasih Ustad Abdul Somad, solusinya (sertifikasi ustad) luarbiasa sekali. Win win solution karena itu yang paling baik agar tidak ada pertikaian lagi.


Admin
Jumlah Catatan: 0
No records