JawabanUAS tentang kontroversi Khilafah dan tentang cadar tidak wajib.

MUSTAMI' MEDIA 13/May/2018 Klarifikasi Khilafah, cadar, hijab Sidogiri View : 719 |
Pertanyaan:
Yang pertama, mohon klarifikasi video yang kontroversi mengenai Nabi Muhammad rahmatan lil alamin. Yang kedua, tentang cadar yang kata UAS cadar itu mustahab, apa dasarnya dan mohon dijelaskan perbedaan niqab dan hijab.
Klarifikasi Ustadz Abdul Somad pada ulama di Sidogiri Jawa Timur.

JawabanUAS:

Pertama.
Bahwa ketika Nabi Muhammad Salallahu Alahi Wassalam tinggal di kota Mekah al mukaromah, beliau lewat di depat rumah Yasir dan berkata "sabarlah keluarga Yasir, karena sesungguhnya kalian dijanjikan surga". Waktu itu Yasir disiksa, Amar di siksa dan berujung pada kematian semuanya. Dan nabi tidak bisa membela karena kondisi dalam masa itu dalam keadaan lemah. Kedua, ketika Bilal bin Abi Rabah diletakkan di atas tanah, pundaknya kena pasir yang panas dan ditimpakan lagi dengan batu. Itu juga tidak dapat ditolong. Jika Allah mau menolong, hal itu mudah saja bagi Allah, tetapi perjalanan nabi ini manusiawi. Berproses yang menunjukkan bahwa banyak orang-orang teraniaya waktu di Mekah itu. Ketiga, ketika nabi sedang shalat, datanglah musuh-musuh Allah yang mencekik dan menutup kepala nabi dengan kain hitam. Sampai akhirnya datanglah Sayidatuna Fatimah dan mereka segan karena ini perempuan. Dan beberapa perkara lain di Mekah. Kondisi demikian tidak terjadi di Madinah. Di Madinah tidak ada sahabat yang teraniaya, tidak ada yang menghalangi nabi untuk shalat berjamaah.
Karena konteks pembicaraan adalah mengenai politik, lalu saya katakan sempurnanya rahmatan lil alamin itu adalah setelah nabi mengenggam kekuasaan. Nabi itu hidupnya dibagi tiga, dari lahir sampai menerima wahyu usia 40 tahun, dari menerima wahyu sampai ke Madinah usia 40 sampai 53 tahun, dari setelah pindah ke Madinah sampai meninggal dari usia 54 sampai 63 tahun. Puncak kedatangannya sebagai rahmatan lil alamin adalah ketika Dia menggenggam kekuasaan setelah sampai ke Madinah al munawarah.
Apa bahasanya yang menjelaskan kekuasaan itu? Lain ulama lain pula istilah yang dipakai.

Ada yang menyebut al ahkam as sultaniah, ada yang menyebut as siasah as sariyah, ada yang menyebut min fiqh daulah, ada yang menyebut al khilafah.


Ada wartawati tv one bertanya apa pendapat ustadz tentang khilafah. Kebetulan disamping dia ada buku fiqih Islam Sulaiman Rasyid. Saya perlihatkan isi buku yang menunjukkan tentang al khilafah. Bahwa Sulaiman Rasyid tidak menggunakan istilah as siasah as sariyah atau al ahkam as sultaniah tetapi memakai istilah al khilafah. Maka waktu itu saya katakan bahwa sempurnanya Islam rahmatan lil alamin setelah nabi al khilafah, nabi menggunakan kekuasaan.

Al khilafah yang saya maksud adalah kekuasaan.

Sederhananya saya ingin mengatakan bahwa ketika di Madinah tidak ada lagi orang teraniaya, semuanya terlindungi setelah nabi memegang kekuasaan. Lebih sederhananya lagi, kalau kita mau menebarkan rahmatan lil alamin kita mesti berkuasa, dan mesti berpolitik.
Orang tidak senang dengan pernyataan saya tadi lalu di cut (video) sehingga perlu diklarifikasi.

Kedua.
Mengenai cadar yang digunakan untuk menutup wajah perempuan, selalu saya kutip pendapat ulama Saudi Arabia, sesama ulama yang mengajar di Saudi Arabia. Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan wajib. Syekh Ibnu Baz mengatakan wajib, Syekh Albani mengatakan tidak wajib. Mengapa ustadz mengambil pendapat Saudi Arabia ini? Saya ingin menjelaskan pada yang selalu ngotot mengatakan wajib ini bahwa diantara ulama Saudi sendiri ada yang mengatakan tidak wajib.
Yang mengatakan cadar/niqab ini hanya sekedar anjuran saja,

Tidak sampai ke tingkat wajib ada dalam buku As Sunnah an Nabawiyyah baina Ahl al Fiqh wa Ahl al Hadits karya Syaikh Muhammad Al Ghazali.

Menurutnya, seandainya cadar itu wajib, maka untuk apa ayat laki-laki harus menundukkan pandangan (ghadhul bashar). Menundukkan pandangan itu karena wajahnya (wanita) kelihatan. Kalau wajah tidak kelihatan, untuk apa laki-laki disuruh menundukkan pandangan? Jadi kata Syekh Muhammad Al Ghazali cadar ini tidak sampai pada tingkatan wajib.
Itulah referensi yang saya pakai.
Adapaun mengenai hijab, yang saya pahami adalah tidak bersatunya antara laki-laki dan perempuan. Tertutupnya pandangan dan tidak menyatu itulah hijab. Adapun bagaimana mengaktualisasikannya di masyarakat tentu berbeda-beda. Ambil satu contoh kasus.
KSMR (Kelompok Studi Mahasiswa Riau) di Kairo, menerapkan perempuan tidak bersatu dalam satu majelis. Kalau kami buat kegiatan maka perempuan berada di dalam kamar. Satu ketika datang seorang syekh dari al azhar yang diundang dan bertanya, ini kok pelajarnya laki-laki semua? perempuannya mana? Kami jawab, perempuan ada di dalam kamar. Syekh berkata, bukan begitu memahaminya, keluarkan mereka. Buat mereka ada di belakang laki-laki sehingga tidak saling pandang memandang.


Admin
Jumlah Catatan: 0
No records